Latest Posts
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

Keajaiban sedekah | karya Dina Agustina



Di suatu desa ada seorang mualaf, mualaf ini orangnya perempuan sudah se-umuraan ibu-ibu, namanya ibu Lastri dulunya dia beragama Kristen dan bisa dikatakan enggak patuh kepada tuhannya lah yaa dulu dia pezina, pencuri dan suka mengisi acara Dj-Dj  di tempat dugem. Dia bisa berpindah ke agama Islam karena dia terobsesi dengan Muslimah yang menutup seluruh badanya dengan kerudung yang besar dan juga  sangat malu kepada laki-laki  dia mengamati Muslimah tersebut dan ternyata Muslimah tersebut juga suka bersedekah menyayangi orang miskin, seketika itu dia memeluk agama Islam. Setelah mengenal agama Islam dia sedikit- dikit berubah mulai menjauhi pekerjaannya sebagai pemain Dj dan menghindari perbuatan keji lainnya hingga beliau rajin sholat serta mengaji. Hingga  pada suatu hari dia mendatangi sebuah pengajian didesanya disana pak ustadz menjelaskan tentang keutamaan bersedekah, sekejap dia merenungkan diri “betapa banyaknya orang yang kelaparan pada saat ini dan belum bisa datang ke pengajian ini “ ucapnya dalam hati. Seketika  semangatnya pun membara untuk bersedekah, perkataan pak ustadz tersebut berhasil menjadikan si ibu ini semangat menggebu-gebu, akan tetapi dibalik semangatnya ini sempat ada kerikil dihatinya yang membuatnya gelisah “mau sedekah? Uang dari mana buat makan sehari hari aja sudah pas- pasan bagaimana mau sedekah?” pikirnya dalam hati. Memang setelah beragama Islam dia lebih memilih bekerja sebagai jual nasi dirumah-Nya dibandingkan dulunya yang suka bekerja sebagai pemain Dj.
Hari-hari pun berlalu semenjak itu bu Lastri  belum memiliki ide untuk bersedekah. Seiring berjalannya waktu ibu Lastri  iseng-iseng nulis di papan ditulisnya “terima jasa sedekah” ditaruhnya didepan rumah. Keesokan harinya  para warga kumpul didepan rumah ibu Lastri, “assalamualaikum bu Lastri....” teriak warga, “waalaikumsalam ada apa yaa” jawab bu Lastri sambil membukakan pintu. “jadi gini bu apa benar ibu Lastri menerima jasa sedekah buat anak gelandangan, nah kebetulan kami ingin menyumbangkan sedikit uang kami buat sedekah ini bu”(sambil menyodorkan uang ke bu Lastri). “oh... iya pak terimakasih saya akan jaga uang ini baik-baik pak buat sedekah anak gelandangan ”jawab bu Lastri. “iya sama-sama bu kami pamit pulang dulu assalamualaikum” para warga pun pamit. Ibu Lastri bernapas lega akhirnya semangatnya untuk bersedekah ini diberi jalan keluar oleh Allah melalui sumbangan uang dari warga. 
Segara bu Lastri mendapat  uang tersebut dibelinya berbagai makanan buah-buahan dan roti. Setelah makanannya sudah jadi, sorennya bu Lastri langsung menemui para gelandangan di dekat jembatan di dekat  kali di desanya . Disana banyak gelandangan mulai dari ibu-ibu tua,  anak-anak kecil dan yang muda pun ada. Dibagikannya makanan tersebut hingga tidak ada yang tersisa. Bu Lastri masih kepikiran darimana mereka makan kalau tidak ada yang memberi makanan. Maka seketika muncul ide di benak bu Lastri, “mereka makan dari mana ya besok? Em gimana kalau aku sedekah setiap hari Jumat? Em ide bagus” ucap Lastri dalam hati. Anehnya minggu-minggu ini dagangannya bu Lastri makin laris belum waktunya sore pun sudah pada habis nasinya, mungkin inilah yang disebut keajaiban sedekah. 
Dihari pagi Jumat yang cerah dengan sinar mentari pagi memberi suasana hangat pada rumah bu Lastri yang pada saat itu antrean panjang sedang menantinya di depan rumah, siapa lagi kalau bukan para gelandangan yang diundang bu Lastri untuk datang ke rumahnya setiap hari Jumat pagi, bu Lastri pun membagikan makanan-makanan ke para gelandangan tersebut. Senyum bahagia terpancar di wajah para gelandangan mereka sangat bahagia walaupun hanya mendapat sebungkus nasi dari bu Lastri.
Dan pada suatu hari ada orang kaya dan pencuri yang menyamar menjadi gelandangan, mereka menyamar karena mereka sering melihat setiap Jumat ada makanan gratis dirumah bu Lastri. Tanpa berfikir lagi mereka bersekongkol untuk menyamar jadi gelandangan. “Em banyak makanan disana kenapa kita harus susah-susah mending jadi gelandangan kan?” bisik si pencuri. “iya tapi jangan sampai ketahuan yaa..” jawab orang kaya. Jumat berganti Jumat mereka berdua menjadi pelanggan nasi bungkus gratis dirumah bu Lastri. Tanpa disadari mereka malah mencuri uang bu Lastri dan itu pun tidak ada yang tahu. Setelah bu Lastri menyadari kalau uangnya hilang ternyata dia sempat melihat kacamata yang tidak asing bagi bu Lastri, ya itu kacamata langganan nasi gratis dirumah bu Lastri, tidak dendam ataupun marah bu Lastri malah memberi uang lagi ke orang yang dicurigai mencuri uangnya bu  Lastri. “mas ini uang buat mas semoga bermanfaat yah” ucap Lastri sambil menyodorkan uang. “eh iya “ jawab si pencuri tanpa rasa terimakasih langsung diambilnya uang tersebut. Si pencuri itu pun merasa puas “yeah memang goblok tuh orang enggak tahu apa uangnya sudah aku curi malah mengasih uang lagi yah memang goblok hahahha” ucap si pencuri dalam hati. Tak mau kalah si orang kaya ini pun iri “bagi dong uangnya”. “nih” balas si pencuri (sambil menaruh uangnya).
Hari berganti hari dan sedekah terus berlanjut, diantrian yang panjang ini bu Lastri tidak menemui 2 pasangan gelandangan yang telah mencuri uangnya, ada salah satu gelandangan tanya kepada bu Lastri “eh bu Lastri... ada apa bu kok sepertinya sedang mencari sesuatu?”. “ah iya dek saya mencari si gelandangan yang biasanya pakek kacamata hitam itu kemana yah sekarang kok nggak pernah berkunjung kerumah saya kok tumben” jelas bu Lastri. “ohh itu iya bu sekarang memang sudah jarang datang ke Komplek kami sepertinya mereka sakit bu, soalnya setahu saya kemarin mereka di puskesmas bu”. “oh iya terimakasih ya atas infonya”. “iya bu sama-sama”. Tanpa memikirkan apapun bu Lastri langsung menuju ke puskesmas. Tiba di puskesmas bu Lastri sekejap memeluk kedua pasangan gelandangan tersebut dengan bendungan air mata yang ingin menetes. Si pencuri itu heran dan menatap bu Lastri dengan pandangan yang sinis “eh bu Lastri ngapain kesini?”tanya si pencuri. “iya saya mencari kalian kok tumben enggak pernah datang untuk antri nasi gratis dirumah saya dan tadi saya dapat kabar kalau kalian sakit” jelas bu Lastri. “deg” si pencuri merasa terharu dengan sikap bu Lastri kepadanya. “apa apaan ini ya Allah kok masih ada seorang yang baik di zaman ini seperti bu Lastri mengapa ia begitu peduli denganku kenapa padahal aku sudah jahat dengannya” lirihnya dalam hati air matanya pun menetes. “oiya saya pamit pulang dulu semoga cepat sembuh yaa assalamualaikum” bu Lastri pun pulang ke rumah. 
Tanpa disadari atas keikhlasan bu Lastri dalam bersedekah membuat si pencuri berubah menjadi baik dan si orang kaya yang pelit itu menjadi orang yang dermawan. Mereka berdua bahkan sering mengadakan acara bagi-bagi sedekah kepada orang miskin, gelandangan, anak yatim piatu. 
Dan pada akhirnya sedekah itu memang membuah menjadi keajaiban bagi bu Lastri mulai dari rezekinya lancar hingga bisa membuat para pencuri dan orang bakhil tersebut sadar. Inilah kuasa Allah yang harus disyukuri bahwasanya  sedekah itu akan berbuah menjadi suatu keajaiban tersendiri dan itu harus dilandasi dengan keikhlasan baik berbuat apapun termasuk sedekah karena doa orang-orang miskin itu mujarab. 


more »

Selasa, 07 April 2020

Ini impianku bukan impianmu cerpen Karya Ariyani maulidatus tsaniyah



Jakarta, Senin 2020.

Pagi hari yang cerah, suara kicauan burung yang berterbangan. Suara usik ramainya kendaraan di jalan raya. Macet selalu terjadi pada kota Jakarta ini. Segerombolan orang memenuhi halte bus hendak pergi ke tempat tujuan mereka.

Amanda Shakira, gadis dengan seragam sekolah putih abu-abu yang sedang berdiri di halte bus menunggu kloter kedua bus menjemputnya. Setelah datang, ia pun segera naik walau terasa sangat berdesak-desakan.

Setelah sampai di sekolah, ia tertarik pada segerombolan siswa yang tengah berada di Mading sekolah. Amanda pun menghampiri Mading sekolah.

Di sana terdapat pengumuman yang membuat Amanda melengkungkan senyumnya. Brosur tersebut bertuliskan tentang lomba fotografi tingkat sekolah, dan hadiahnya lumayan.

Amanda segera mengambil gambar dari pengumuman tersebut dan berlari menuju kelasnya.

"Ada apa nih kok senyum-senyum gitu" tanya teman sekelas sekaligus sahabat Amanda, shiren.

Amanda pun menunjukkan sesuatu pada shiren yaitu foto yang barusan ia jepret.

"Waaah kamu mau ikutan? Kesempatan nih buat kamu" heboh shiren.

Amanda hanya diam sambil menunduk, ia pun duduk di bangkunya dan menidurkan kepalanya di meja.

Shiren melihat reaksi Amanda seperti itu pun langsung menghampiri Amanda.

"Kamu takut ya kalau ayah kamu ga ngebolehin?" Tanya shiren dengan penuh hati-hati. Amanda hanya mengangguk pasrah.

" Kamu omongin baik-baik sama ayah kamu, pasti ayah kamu bolehin kok. Tenang aja" ucap shiren mencoba menenangkan Amanda.

Setelah pulang sekolah, Amanda menghampiri ruangan ayahnya. Ayah Amanda adalah seorang profesor di universitas negeri Jakarta. Ibu Amanda sudah tiada 10 tahun yang lalu. Tinggal lah Amanda bersama ayahnya.

Amanda mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian menghampiri ayahnya yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas-berkas di mejanya.

"Mau apa?" Tanya ayah Amanda tanpa mengalihkan pandangannya.

"Mau ngomong sesuatu yah" jawab Amanda dengan penuh hati-hati dalam berucap. Ayah Amanda mempersilahkan Amanda untuk duduk dan segera berbicara karena ayah Amanda tak punya waktu banyak untuk sekedar bercanda.

"Jadi di sekolah Amanda ada lomba yah.." Amanda menggantungkan kalimatnya karena merasa takut dengan reaksi ayahnya nanti.

"..lomba fotografi" lanjut Amanda. Amanda spontat meneguk ludahnya dan memundurkan badannya ketika ayahnya menatap Amanda dengan tatapan tajam.

"Ayah sudah pernah bilang, kalau fotografi itu tidak ada gunanya! Kenapa kamu masih aja pengen banget jadi fotografer, apa si faedahnya cuma ngefoto wara-wiri. Paling gajinya tidak sebesar jadi dokter" bentak ayah Amanda dengan tegas.

" Tapi yah, bukan masalah bakat tapi minat. Amanda gamau jadi dokter Amanda gasuka Amanda ga minat, Amanda pengen jadi fotografer!" Jawab Amanda sontak membentak dan berdiri.

Ayahnya yang kesal pun menampar pipi Amanda hingga membekas merah pada kulit putihnya itu. Amanda sangat sakit hati, ia berlari ke kamarnya dan menangis mengunci diri.

Ayahnya seperti bingung dengan apa yang ia lakukan tadi pada anak semata wayangnya pun mengusap jidatnya dan mencopot kacamatanya dengan frustasi.

Keesokan harinya, Amanda hendak pergi sarapan. Namun pintu kamarnya tiba-tiba sulit untuk dibuka, ia pun menggedor-gedor pintunya dan berteriak memanggil pembantunya.

"Biii, bibi, bi Laras bukain pintunya Doong" teriak Amanda, namun tak ada satupun seseorang yang berniat untuk membantunya. Namun saat Amanda melihat ke bawah, ada selembar kertas. Ia pun membaca kertas tersebut.

_Dari ayah_

_Untuk hari ini dan besok, kamu tidak boleh keluar rumah dulu. Ayah sudah meminta izin ke kepala sekolah kamu. Ayah tidak mengizinkan kamu untuk ikut lomba fotografi, maka dari itu ayah mengunci kamu di kamar. Jendela kamar kamu sudah ayah kunci dari luar, kamu tidak akan bisa kemana-mana. Dan maaf juga hp, laptop, serta kamera kamu ayah sita. Di sana ada buku dan berkas-berkas yang harus kamu baca dan isi. Ayah mau kamu nurut sama ayah._

_Untuk Amanda Shakira._

Amanda menangis membaca surat itu. Ia berlari kecil ke arah jendela. Ternyata benar, ayahnya mengunci pintunya dari luar. Ia pun menangis sambil menatap ke luar jendela. Ia melihat setumpuk buku yang ada di atas meja belajarnya. Di sana banyak sekali buku tentang ilmu kedokteran. Amanda tidak berminat untuk membacanya. Yang Amanda rasakan saat ini begitu membuat Amanda ingin bunuh diri saja.

Mau tak mau Amanda tidak mengikuti lomba fotografi yang sangat ia minati demi menuruti keinginan ayahnya.

Setelah beberapa bulan Amanda tak memakai kameranya sama sekali, ia lebih menuruti keinginan ayahnya. Dan hari ini, Jumat 2020 di sekolah negeri Jakarta. Hari yang ditunggu banyak siswa kelas 12. Pengumuman kelulusan mereka. Dan ya, Amanda lulus dengan peringkat teratas dari 200 lebih siswa. Ayah Amanda pun bangga dengan berita itu.

Setelah satu bulan berita kelulusan Amanda, kini ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke kota yang nanti menjadi tempat ia menuntut ilmu. Kota dimana yang ayah Amanda inginkan. Amanda diterima di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Cerita 7 tahun lalu, yang masih terbesit dibenak ayah Amanda yang kini tengah duduk di kamar Amanda. Melihat sekeliling ruangan dengan penuh foto yang diambil oleh Amanda. Satu-persatu hingga ayah Amanda meneteskan air matanya. Amanda sudah menjadi sukses, telah menjadi dokter. Dan itu adalah keinginan ayahnya.

Terakhir kali ayahnya melihat Amanda yaitu saat keberangkatan Amanda. Dimana sebelum itu Amanda memeluk erat ayahnya, menangis tersedu-sedu. Dan mengucapkan 'Amanda tidak akan mengecewakan ayah'.

Keesokan harinya, ayah Amanda ingin pergi membesuk Amanda. Membawakan beberapa hadiah dan makanan.

Sekitar 20 menit, ayah Amanda telah sampai di rumah sakit yang sekarang menjadi tempat tinggal Amanda. Rumah sakit jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta.

Amanda yang kini tengah duduk bersama perawatnya di taman dengan ekspresi datar dan rambut acak-acakan. Ayahnya tersenyum pada Amanda dan berjongkok di depan Amanda. Ayahnya memberikan sesuatu pada Amanda. Sebuah kamera dan beberapa koleksi foto yang Amanda jepret sendiri saat itu.

Ayah Amanda menangis tersedu-sedu di depan Amanda. Mengatakan kata 'maaf' beberapa kali. Membungkuk dan menangis, merasa bersalah dengan apa yang selama ini ia lakukan pada ana semata wayangnya. Menyesal telah menjadikan anaknya untuk menuruti semua keinginannya.

Penyesalan memang datang di akhir. Berfikir sebelum bertindak untuk kedepannya. Jangan jadikan anak sebagai tumbal keinginan orang tua. Sebab, orang tua bisa membunuh impian anaknya dengan cara apapun.


more »

Minggu, 22 Maret 2020

Physis | cerpen karya Luluk Ezlina





Suasana yang menegangkan dibalik benteng pertahanan didampingi suasa hening yang berdominan. Berbanding terbalik jauh diluar sana, yang mana mereka tidak tahu sekacau apa keadannya.

Suasana mencekam membuat siapa saja tidak tenang dengan hati yang gelisah menghadapi situasi seperti ini. Menenangkan diri mereka dengan menghembuskan nafas dari apa yang akan mereka hadapi.

Seperti tidak ada rasa gentar dari formasi waspada yang mereka siapkan sebelumnya. Mereka menunduk bersembunyi dibalik benteng, menunggu perlawanan datang.

Semua mata fokus memandang jauh kedepan. Angin yang tiba-tiba datang membuat mereka waspada.

Suara anak panah melesat cepat menuju arah yang dikehendaki empunya. Membuat beberapa terkesiap oleh anak panah yang sudah menancap di tubuh salah satu rekan mereka. Tak seberapa lama kemudian hujan anak panah menghujami beberapa prajurit yang menjaga benteng dibagian atas.
Itu begitu tiba-tiba, anak panah datang dari arah belakang mereka.

"Semua waspada!" Seru komandan mereka dengan penuh kewaspadaan.

*BRAK BRAK BRAK
Dobrakan pintu dari luar membuat semua menoleh kearah pintu gerbang yang ditahan oleh beberapa prajurit bergetar keras. "Beritahu kepada komandan kalau kita dikepung dari belakang!" Teriak salah satu guardian setelah mencoba melihat apa yang ada diluar gerbang.

"Kita dikepung dari belakang!" Ulang Prajurit yang merasa dikomando, segera berlari panik menuju komandan yang berdiri memimpin didepan gerbang utama.

"Kenapa salah satu dari mereka tidak ada yang mengabari hal ini! Ini melenceng dari rencana," Komandan phill mengeluarkan pedang dari sarungnya dengan gigi menggertak tak sabaran, sebelum teriakan dan Kegaduhan dari arah belakang mengalihkan fokus mereka semua.

"Semua pertahankan benteng keamanan!" Setelah menyerukan perintah menggelegar yang ditujukan kesemua prajurit dan guardian, komandan phill bergegas menuju gerbang belakang.

"Pasti ada sesuatu diluar sana yang menimpa pasukan kita. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi." Ia dibantu dengan prajurit yang berlari kearahnya tadi untuk menghalau penyerangan didepan yang terus saja mencoba melayangkan pedang kearah mereka.

Beberapa prajurit lawan dari pasukan kecil telah berhasil menerobos gerbang belakang yang akhirnya menyerang masuk. Diserang balik oleh para guardian yang menjaga bagian gerbang belakang dan dibantu oleh komandan phill yang telah datang.

Gerbang dengan keadaan yang sudah jebol mengakibatkan semakin banyaknya pasukan lawan yang masuk, membuat pasukan guardian disana sedikit kualahan.

Kehadiran orang disamping phill dengan menggunakan baju zirah yang sama seperti dirinya. Membuat ia menoleh tanpa mengurangi kewaspadaannya untuk mengibaskan pedang ditangannya.
"Kenapa kau ada disini?!" Yang seharusnya dia tidak ada disini sekarang.

"Aku disuruh oleh thorn kesini untuk membantu kalian! " orang yang menggunakan baju zirah dengan pangkat yang sama seperti komandan phill, langsung mengibaskan pedangnya saat musuh hampir saja melukainya.
"Aku tidak telat bukan? Setidak nya hanya sedikit."

Shaz, nama orang disamping phill, terus memukul lawan mundur tanpa peduli seberapa banyak gerombolan didepannya.
"Dia menyuruhku, katanya dia merasa firasatnya buruk, mungkin saja musuh merencanakan hal lain."

"Dan saat sampai disini aku terkejut dengan situasi diluar, kau tahu didepan sana ada pasukan panah untuk melumpuhkan pertahanan gerbang utama!" Tambahnya, memperpampangkan mimik muka konyolnya, membuat ia menurunkan drajatnya seketika. Bagaimana mungkin posisinya yang dalam menyerang tanpa menatap lawannya begitu asik bercengkrama santai seperti ini.

"Untung kita menyiapkannya untuk berjaga-jaga, tapi ini terasa sia-sia."

"Biarkan para guardian yang mengurus didepan. Kita disini untuk mencegah lawan semakin masuk." Tanpa memperdulikan lelucon shaz, phill terus melayangkan pedangnya ke arah lawan yang menjadi tandingannya bertarung sekarang, terlihat lumayan susah untuk ditumbangkan.

"Bagaimana dengan keadaan disana?!" Posisi mereka yang berdampingan membuat phill lebih mudah bertanya pada shaz, walaupun dengan sedikit berteriak.

"Aku tidak tahu, yang pasti sepeninggalku dari sana, keadaannya juga tidak kalah kacau!" Menaikkan sedikit bahunya, tanpa menoleh pada phill.

"Tapi kenapa kau meninggalkan pasukanmu bodoh! Biarkan aku yang mengurusnya, aku masih mampu mengatasi hal ini." Tampaknya ia mulai kesal dengan shaz, terbukti dari wajah memerahnya yang menahan amarah.

"Kau benar-benar masih berlagak?! Kalau kau tahu keadaan diluar sana, kau pasti akan seperti gula. Bangkai!" Shaz mulai tidak suka dengan sifat arogan phill pada saat situasi seperti ini.
"Aku tidak yakin dengan ucapanmu, saat melihatmu dalam keadaan kualahan seperti ini!"

Dari keadaan didepan gerbang utama juga semakin banyak pasukan lawan yang membawa busur. Pintu gerbang semakin diperkuat dengan banyaknya guardian yang menjaga.

Pandangan semua mulai memburam karena tiba-tiba angin membawa debu menghalangi pandangan mereka.

Menyadari hal itu, guardian elpez yang menjaga didepan, menghalau debu masuk kematanya, dan menajamkan retinanya untuk melihat apa yang terjadi didepan.
Matanya melotot seketika, saat beribu pasukan menuju kearahnya dibarengi suara getaran dari langkah kaki mereka.

Butuh kekuatan penuh untuk menghabisi musuh Sekian banyaknya. Dan sekarang menjadi segelintir lagi yang akan mereka habisi, dan habis sudah. Sebelum itu terjadi, getaran yang mereka rasakan dibawah kaki mereka membuat Kedua komandan yang semula sibuk menyerang lawan, kini pun menoleh menatap satu sama lain.

Bunyi terompet peperangan dari kubu mereka terdengar, membuat keduanya melotot cepat. Secepat itu mereka sadar dan secepat itu pula mereka menghabisi lawan yang tersisa didepan mereka.

Segera menuju gerbang utama, semua terlihat sibuk menggencarkan senjata mereka.

Seseorang terlihat dari pangkat baju zirah yang dikenakannya berada dibawahnya, tapi diatas prajurit --guardian--. Menghampiri phill dan mengacuhkan shaz yang terlihat kesal karena diacuhkannya.

"Sepertinya pasukan kita didepan kalah, dan pasukan lawan datang kesini untuk menyerang kita. Pasukannya cukup banyak walaupun sudah dihabisi sebelumnya oleh pasukan kita yang dimedan perang, itu tidak mengurangi jumlahnya yang sekian banyak nya." Raut tenang tetap mendominasi wajahnya, berbeda dengan situasi disekitar mereka.

Bunyi beledum terdengar memekakkan telinga. Mengakibatkan bangunan hancur terbakar. Serangan lawan yang semakin membabi buta membuat keadaan semakin kacau.

"Apa yang kalian pikirkan. Lawan mereka!"
"Tembakkan bola meriam!" Perintah phill, dan secepatnya dilaksanakan oleh para prajurit.

"Apa yang harus kita lakukan?" Shaz yang bingung dengan situasi ini hanya menampakkan wajah panik seperti dibuat-buat.

"Perkuat pertahankan pintu gerbang, jangan sampai mereka memasuki istana." Jawab phill mengutarakan strateginya.

"Lalu, kita akan menunggu disini sampai pintu jebol tanpa melakukan apapun?" Heran shaz pada phill yang terus menerus memerintah bawahannya.

"Tidak! Kita serang melewati pintu rahasia tanpa membuka gerbang. Itu akan mengurangi resiko"

"Tapi disana pasukan sangat banyak, bahkan ada troll yang membantu mereka. Tidak mungkin kita melawan berdua sendirian." Shaz tidak berharap untuk menjadi santapan troll yang akan dia temui disana.

"Kita tidak bisa tinggal diam disini saja." Shaz mengibaskan jubah kebanggaannya kebelakang.
"Zeus! Kerahkan falcon untuk menyerang mereka."

"Baik phill," zeus segera mengangguk mematuhi. Dengan segera memerintah kan prajurit untuk membantunya mengeluarkan falcon dari kandanya.

Segera phill dan shaz menuju lorong rahasia menghubungkan dunia luar, tidak jauh dari pintu gerbang utama. Lorong rahasia ini memang disengaja dibuat untuk situasi seperti ini.

Setelah keluar dari lorong rahasia. Mereka mereka melihat falcon yang sudah dikerahkan. Beberapa falcon dengan ukuran kecilnya berubah menjadi sepuluh kali lipat lebih besar melebihi manusia. Menerkam lawan, membawanya terbang dan melepaskannya begitu saja.

Tidak ingin membuang-buang waktu dengan hanya melihat situasi. Mereka berdua berlari menggebu ke arah para musuhnya berada. Mengoyaknya dari belakang, tidak memperdulikan seberapa banyak yang akan mengeroyok mereka. Tidak begitu sulit mengalahkan satu orang, hanya butuh sekali tebas, dan mereka tumbang.

Kedua kubu saling mengerahkan perlawanan masing-masing. Menjadikan suasana begitu mencekam oleh senjata yang saling beradu. Semakin hancurnya pertahanan istana. Tidak membuat itu cukup, banyaknya pasukan mereka yang tumbang membuat semakin tidak ada lagi harapan.

Kepakan sayap membuat padang rumput disekitar bertiup kencang. Semua mengalihkan fokusnya untuk melihat eksistensi sesuatu. Dan itu membuat semua gelagapan bukan main paniknya. Itu bukan ulah falcon. Ini tidak bisa dipercaya. Terhitung 5 ekor naga datang dari arah selatan dan mengelilingi tempat ini. Semburan api datang dari mulut naga dan melahap mereka, membakar habis istana. Sekejab eksistensi naga menggantikan falcon yang dimusnahkan dengan semburan apinya.

Phill yang melihat itu tercengang marah. Ia merasa belum saatnya mereka kalah. Ia tidak menduga ini akan terjadi. Sebelum amarahnya mengepul dan melampiaskannya, anak panah melesat menancap tepat didepan ujung sepatunya. Ia menoleh, menduga anak panah itu datang dari arah belakangnya. Saat tidak di temukan siapa-siapa, dia mengambil anak panah yang terdapat secarik kertas diujungnya.

Rahangnya mengeras, giginya bergemelatuk marah. Tangannya meremas kertas yang baru saja ia baca. Sekarang kemarahannya diujuk puncak. Dan kemarahannya meledak saat sesuatu menarik bahunya kebelakang.

Saat itu juga pedangnya melayang kearah leher sang pelaku. Dan itu berhenti seketika saat mengetahui wajah pelaku sebelum tepat menggores kulit lehernya.
"Apa ha!" Saking marahnya dia berteriak marah tepat diwajah shaz, sang pelaku, dan menyingkirkan tangan yang menempel pada pundaknya.

"Kita disuruh mundur oleh thorn untuk mundur." Kali ini wajah shaz serius dengan situasi yang mereka hadapi.

"Aku tidak peduli!" Kalau sudah marah seperti ini, itu sangan sulit untuk diredakan, sebelum diredakan dengan kekerasan. Jadi mau tidak mau shaz memukul keras rahang phill.

Nafas yang menggebu-gebu membuat shaz tidak tahan lagi, berfikir harus menjauh dari kekacaun disekitar mereka. Shaz menarik paksa phill keluar dari medan pertempuran. Membawa phill ke suatu tempat persembunyian yang letaknya tak jauh dari sini.

Melihat semua kelompoknya sudah berkumpul menunggu dirinya dan phill. Ia menghampiri panglima thorn untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.

"Hei! Apa maksutmu membawa mereka semua kesini?" Phill melihat itu sudah merasa muak dengan semua keadaan yang menimpa mereka.

"Kita harus pergi dari sini." Hanya ucapan itu membuat semua secepat kilat terkejut dengan apa yang dikatakan thorn, selaku pemimpin panglima mereka.

Mendengar hal itu, dengan tanpa diaba-aba phill bangkit dari duduknya dan langsung menarik baju zirah yang dipakai thorn.
"Apa yang kau katakan hah! Ucapanmu kurang jelas kau tahu itu."

"Iya, kita harus meninggalkan tempat ini, kastil kita, tempat yang kita lindungi." Perkataan thorn yang begitu tidak memungkinkan. Membuat kemarahan phill kembali tersulut.

"Bagaimana mungkin itu terjadi?" Mata memerah menandakan ia tengah menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun.

Semua yang ada disana hanya bisa bungkam. Karena mereka yakin pasti ada sesuatu yang membuat tetua panglima mereka, thorn, mengatakan hal itu. Mereka sudah paham betul akan sifat rekannya, phill, yang keras. Jadi mereka hanya diam menonton, juga menunggu pembelaan dari thorn.

"Istana kita hancur. Kau melihatnya sendiri bukan?" Tidak ingin memancing amarah phill lebih larut lagi, ia meneruskan, "pasukan mereka lebih banyak jumlahnya. Apa lagi naga itu. Itu tidak memungkinkan."

"Kau tidak bisa percaya sendiri dengan kekuatan kita? Kalau begitu kenapa raja memilihmu menjadi kepercayaannya? Tidak langsung kau juga meremehkan kemampuanmu sendiri." Phill melepas cengkraman pada pundak thorn dengan mendorongnya, sehingga membuat torn tersentak kebelakang.

"Aku yakin kita pasti bisa mengalahkannya. Kau harus ingat raja menaruh kepercayaannya pada kita."

"Aku juga tahu itu. Tapi kita tidak akan bisa mengalahkannya kau tahu? Tidak, kita tidak kalah, tidak akan pernah. Karena keadaan kita yang tidak memungkinkan membuat kita harus mundur."

"Dasar pengecut! Aku tidak mau mundur begitu saja. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Bagaimana dengan kerajaan kita, pengabdian kita? Aku tidak mau. Kau dengar itu?" Tudingan jari langsung mengarah pada thorn.

"Aku juga tidak mau istana kita di renggut. Tapi kita harus membiarkannya dulu. Suatu saat pasti kita akan merebutnya kembali." Mencoba menenangkan emosinya walau dalam dirinya ingin rasanya ia menghabisi para bedebah di luar sana yang sekarang menghancurkan kastil rajanya.

"Bagaimana bisa, ha! Apa karena pasukan kita kalah jumlah Kau jadi pengecut? Aku yakin kita bisa melakukannya sendiri, dengan semua kekuatan kita. Walaupun itu dengan mengobarkan diri, tapi itu tugas kita bukan." Berapi api ia menyerukan kesetiaan pada rajanya.

"Itu permasalahannya. Kita diperintah raja untuk menjaga putrinya. Melindungi putrinya lebih penting dibanding mempertahankan kastilnya. Kalau kita mati, siapa yang menjaganya. Ia yakin, putrinya dikemudian hari pasti akan merebut kerajaan kita kembali. Itu lah pesannya sebelum beliau meninggalkan kita." Berusaha untuk meyakinkan mereka lewat matanya yang menjuru ke seluruh rekannya, kalau kepercayaan rajanya masih bisa mereka miliki.

Semua menunduk. Tidak ada yang berani bicara. Pikiran berkecamuk diantara mereka semua. Biarkanlah mereka merenungi apa yang terjadi sekarang.

"Bagaimana dengan semua rakyat?" Baru sadar akan hal itu, membuat semua menoleh menatap thorn untuk menerima penjelasan.

Thorn yang ditatap, malah menoleh pada lute, panglima yang diutus pada bagian perlindungan rakyat. Yang ditatap malah menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa!" Phill tidak habis pikir dengan strategi ini.

Torn menimpali mewakili lute yang memang irit berbicara, iritnya tidak memandang situasi.
"Kita sudah semaksimal mungkin untuk menjaga mereka semua. Dan hanya tersisa ratusan. Mereka semua dibawa ke lain tempat. Raja waktu itu merubah strategi, karena ia mempunyai firasat buruk pada peperangan kali ini, jadi beliau sebelum perang dimulai memerintahkan separuh pasukan untuk melindungi rakyat. Dan itu terjadi, saat musuh menyiapkan sebuah siasat untuk mengepung kita, dengan jumlah pasukan yang tak terhitung. Membagi beberapa pasukan untuk menyerang pasukan didepan, para rakyat, dan berakhirlah pada istana ini."

"Sekarang apa yang harus kita lalukan?" Sekarang shaz yang ikut menimpali, sebelumnya dia diam menyimak.

"Menyusul putri. Melindunginya dengan nyawa kita taruhannya. Itu harapan kita satu satunya." Setelah mengatakan itu thorn melangkah masuk lebih dalam ke lorong persembunyian yang menuju ke suatu tempat.

"Tunggu." Semua menoleh kearah phill.
"Sebelum pergi apa tidak ada perpisahan terlebih dahulu?" Semua menghela nafas mendengar pertanyaan yang mengingatkan mereka pada perpisahan sudah tiba saatnya.

Semua terdiam. Hanya menatap kosong pada tempat yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Terasa sudah puas melihatnya, satu persatu mengalihkan pandangan, membelakangi tempat yang terakhir kali mereka lihat sebelum masuk melewati lorong rahasia menuju dunia baru yang akan mereka hadapi esok hari.



more »

Kamis, 27 Februari 2020

Wanita Tangguh dan Mandiri | Cerpen Karya Hilda Naryama





Jadilah Wanita Tangguh dan Mandiri Kerena Hidup Tak Selalu Seindah Sendratari


Waktu memang selalu bergulir dengan cepat, bukan? Paling tidak, itulah yang
aku rasakan saat aku menulis ini.



Aku baru tersadar. Mungkin, selama ini aku memang tidak pernah benar-benar paham. Bagaimana seharusnya aku menjalani setiap helai lembaran hidup ini? Bagaimana seharusnya aku mendaki setiap bukit karang yang menjulang tinggi? Dan bagaimana seharusnya aku mengarungi setiap samudera yang nampak tak bertepi?

Kamu dan aku. Ya, kita sama-sama tahu dengan jelas apa saja yang telah kita lalui selama ini. Rintangan apa saja yang pernah kita hadapi. Kegagalan apa saja yang sudah kita alami. Kita telah merasakan bagaimana kerasnya dunia tempat kita mencari sesuap nasi. Kita juga pernah mencicipi bagaimana rasanya dikhianati dan pedihnya patah hati.

Searang ini, aku memang belum menjadi pribadi yang layak untuk dijadikan patokan. Bukan, bukanlah kapasitasku untuk mengguruimu. Aku percaya bahwa kamu telah menjadi sesosok wanita yang jauh lebih bijaksana daripada aku saat ini. Tentu saja selama 5 tahun sejak hari ini, kamu sudah banyak berkelana dan makan asam garam.

Namun, jika suatu saat nanti kamu sedang terpuruk. Merasa kacau dan tak tahu harus melangkah ke mana, aku ingin kamu mengingat hal ini. Sebuah pesan yang akan membuatmu berhenti menangisi diri dan segera kembali berdiri.

Senantiasalah menjadi wanita yang
tangguh dan mandiri. Karena hidup ini
ibarat hutan yang penuh liku dan berduri.
Ya hidup memang tidak mudah. Hidup itu penuh dengan tantangan. Perjuangan yang tidak akan ada habisnya. Di sinilah, mentalmu akan diuji. Di dunia inilah, karaktermu akan ditempa.


Kamu pasti ingat bagaimana aku tertatih-tatih menghadapi berbagai persoalan pelik di tahun yang bersejarah itu. Aku merasa seperti dijatuhkan ke sebuah lubang yang dalam dan ditinggalkan seorang diri bersama dengan kegelapan malam. Aku dibiarkan mencari jalan keluar sendiri. Tanpa seorang pun yang sungguh memahami, pergumulan apa yang berkecamuk di dalam hati. Ya, sebuah tahun yang banyak menorehkan luka. Tapi, juga banyak memberikan pelajaran yang bermakna.

Apa saja yang telah kamu alami selama 5 tahun terakhir ini? Apakah banyak batu sandungan yang hampir membuatmu berhenti? Aku harap apapun cobaan yang datang menghampiri, kamu tetap menjadi sosok wanita yang tangguh dan mandiri.

Wanita tangguh itu bukan berarti tak boleh menangis.

Menangis bukanlah cerminan kelemahan. Karena menangis itu merupakan hal yang manusiawi. Jadi, janganlah kamu membendung tangis jikalau setiap tetes air mata itu dapat meredam gejolak dalam hatimu.

Wanita tangguh itu adalah wanita yang tidak takut akan kegagalan. Ia mungkin akan bersedih dan meluapkan emosi. Tapi, ia tak akan terlena terlalu lama. Ia akan segera menyeka air matanya. Mampu bangkit lagi dan kembali berdiri di atas kaki sendiri.

“Karena wanita tangguh itu tidak mudah mengeluh. Ia punya pendirian dan pantang menyerah.”

Menjadi wanita yang mandiri bukan berarti kamu tak perlu menikah.

Kamu tetaplah manusia biasa. Manusia yang punya keterbatasan dan punya rasa cinta. Menikah atau tidak, itu sepenuhnya adalah hak dirimu. Ya, menikah bukanlah tolak ukur atas kemandirianmu. Definisinya jelas tak sesempit itu.

Wanita yang mandiri adalah wanita yang tidak bergantung berlebihan kepada orang lain. Ia bukanlah wanita yang manja.

Jadi, jangan pernah menggantungkan masa depanmu kepada siapa pun. Setiap jenjang pada hidupmu berada dalam genggaman tanganmu. Maka, selesaikanlah masalahmu secara dewasa dan tentukanlah keputusanmu sendiri.

Tapi, ingatlah juga akan hal ini. Menjadi wanita mandiri ketika kamu sudah berkeluarga, tak berarti kamu melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu dan istri.

“Karena menjadi wanita mandiri berarti menghargai diri sebagai pribadi dan mampu memberdayakan diri sendiri.”

Hingga saat ini, aku pun masih terus mengasah diri. Dan kuharap, kamu akan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga alunan langkah kaki kita akan tetap senada dan seirama. Kamu tahu kenapa?

“Karena aku akan selalu mendoakan kamu, sosok masa depanku.”
more »

Senin, 24 Februari 2020

Shadow Princess | Cerpen karya Talitha Atha Anatasya


Shadow Princess

Di suatu kota besar yang ramai penduduk, terdapat satu gadis muda yang kekinian namanya adalah Lexa, orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan disaat dia masih berumur 10 tahun, selama ini dia tinggal bersama dengan neneknya namun 5 tahun lalu neneknya meninggal sehingga dia sudah tidak punya siapa siapa lagi.
 Setiap malam dia selalu pergi ke bar untuk nongkrong dengan teman temanya. Suatu ketika dia pulang dari nongkrong bersama teman nya dia tertidur sofa apartemen nya, di saat dia terbangun dari tidurnya dia menyadari bahwa dia tidak berada dirumah, melainkan dia berada di hutan dunia elemen, namun dia tidak tau kalau dia sebenarnya berada di dunia elemen, kemudian dia berjalan mencari orang untuk bisa ia tanyai.

Setelah beberapa jam ia berjalan, lalu dia menemukan sebuah desa di dekat hutan dan dia pun bertanya kepada penduduk desa tersebut
"Pak kalau saya boleh tau ini dimana ya" tanya ku kepada bapak pengembala kerbau, bapak pengembala kerbau itu terus menatap ku secara teliti, serasa ada yang aneh dengan diriku. "Ini ada di kerajaan api" bapak tersebut menjawab dengan pandangan yang masih menganggap ku aneh.

Aku terus melanjutkan perjalananku dalam keadaan masih bingung sebenarnya aku ini dimana, sampai akhirnya aku menemukan sebuah istana yang besar, lalu aku mencoba masuk ke dalam nya, namun aku terpental keluar seakan ada sebuah tameng pelindung, kemudian di depan gerbang tersebut dia bertemu dengan penjaga taman lalu penjaga taman itu menanyainya" hai anak muda, sedang apa kau disini?" Tanya penjaga taman, mendengar suara tersebut aku segera menoleh ke arah penjaga taman" aku Lexa tuan " jawab ku dengan senyum merekah di bibir, namun penjaga taman itu merasa keheranan dengan diriku ini, " kamu dari mana nak?" Tanya ibu penjaga taman, " aku tidak tau Bu, tiba tiba saya sudah ada di dalam hutan di sebelah sana" aku menjawab pertanyaan ibu tersebut, tatapan mata ibu tersebut semakin aneh terhadap ku, lalu ibu tersebut mempersilahkan aku masuk.

Ketika aku masuk melewati gerbang ternyata aku tidak terpental keluar dari istana tersebut, dari situ aku mengerti ternyata istana tersebut tidak bisa sembarang an masuk ke dalam nya.

Dari kejauhan saat aku berjalan terdengar teriak an seolah dia memanggilku " hey siapa kamu?" Sosok tampan, tinggi, gagah namun sombong memanggil ku
" Kamu tanya aku ?" Aku menjawab dengan santai, mendengar jawabanku pria tersebut marah dan menyuruh para penjaga untuk menangkapku, dan menghukum penjaga taman karena sudah memperboleh kan aku untuk masuk

Setelah beberapa hari aku di tahan di sana akhirnya aku di keluarkan dari penjara tersebut, kemudian aku pergi ke desa penduduk lalu aku bertemu dengan seorang nenek yang bernama nenek deka kemudian karena nenek deka tidak punya keluarga aku kemudian tinggal bersama nenek deka

Malam yang sunyi, dan dingin disana aku mengobrol dengan nenek deka, " nak kamu ini sebenarnya berasal dari mana, mengapa tampilan mu tak seperti warga daerah sini" tanya nenek dengan dengan lembut, " aku berasal dari negara Astra, aku sebenarnya juga tidak tau kenapa aku bisa berada disini, saat aku terbangun aku sudah berada di hutan" jawabku dengan penuh keyakinan. " Apakah kamu kamu manusia seperti yang dikatakan orang orang, tidak mempunyai kekuatan seperti kita para petter" tanya nenek deka penuh penasaran. Aku semakin bingung ini sebenarnya dimana " aku memang manusia, nenek tadi menyebut kita dengan sebutan petter? Petter itu apa nek " aku menjawab nenek deka, mendengar jawabanku nenek deka sontak kaget dengan apa yang aku ucapkan
" Petter adalah sebutan untuk penghuni dunia elemen, ini adalah dunia fana, namun kita punya jalan untuk teleportasi ke dunia lain, tapi itu hanya bisa di lakukan oleh orang orang tertentu dan itu pun hanya beberapa tahun sekali bisa melakukan teleportasi" , Mendengar jawaban nenek deka aku mulai paham apa yang terjadi dengan diriku

Keesokan hari nya saya pergi ke pasar untuk berjualan  bersama dengan nenek deka, saat di pasar aku bertemu dengan ratu kerajaan api yang bernama hazzel dia sedang mengunjungi pasar untuk melihat lihat barang, lalu ratu hazzel pergi ke lapak ku dan melihat aksesoris aksesoris yang aku jual, " wah aksesoris disini bagus bagus ya" dengan senyuman di wajahnya , kemudian dia melihat ke arah ku dan bertanya " Harga nya berapa ya"  aku pun menjawab pertanyaan nya" kalau ini harganya biasa bervariasi yang mulia" , aku memandangi ratu hazzel dan aku pun terasa tersentak melihat apa yang sedang aku lihat, " olive" ratu hazzel memandang dengan tatapan senang
" Mama" aku menjawab nya, lalu raturatu hazzel memelukku dengan penuh kasih sayang, seketika aku tersadar dan melepaskan pelukannya " cukup kamu bukan mama ku, mama ku mama Vera dan dia sudah meninggal, kamu bukan mama" ucapku sambil pergi dari tempat tersebut

Aku pergi ke suatu pohon besar yang rindang di tepi danau, aku disana menangis bahagia dan bingung apakah itu benar benar mamaku. Datanglah sosok berbaju ksatria, memiliki mata coklat yang indah dan rambut yang lurus, pria yang cukup tampan menghampiri ku " hai gadis muda sedang apa kau disini" tanya pria itu, seketika aku yang sedang menangis mengusap air mata ku dan menjawab pertanyaan " kamu bisa lihat sendiri kan aku disini sedang duduk" pria itu mengulurkan tangannya dan berkata" namaku charlos, kalau boleh tau namamu siapa" tanya charlos, " namaku Lexa" jawabku," apakah aku boleh tanya?" Tanya charlos sambil duduk di sebelah ku.
" Mengapa wajahmu mirip dengan Olivia?"
" Olivia? Siapa Olivia?
" Olivia adalah putri mahkota yang menghilang sejak 11 tahun yang lalu, setelah dia pergi bersama dengan pangeran neron dan putri hazzel yang sekarang menjadi raja dan ratu untuk pergi teleportasi ke dunia manusia, sekarang hanya tersisa foto putri olivia saat umur 8 tahun saat dia berada di dunia manusia."
Siapakah putri Olivia mengapa menghilangnya putri Olivia sama seperti waktu papa dan mama meninggal aku semakin penasaran dengan putri Olivia
" Apakah kamu bisa membawa ku melihat foto putri Olivia? tapi aku takut dengan pangeran muda" tanya ku , " aku bisa membawa mu kesana karena aku adalah salah satu ksatria api disana"

Saat Lexa melihat lihat foto putri Olivia dia sadar bahwa itu memang dirinya waktu kecil, lalu datang ratu hazzel dan berkata " kamu sudah melihat ini pasti kamu susah mengakui mama sayang" Lexa segera menoleh ke asal suara tersebut " ma aku butuh penjelasan dari semua ini" dia merasa dirinya tak di adil Karena dia tidak mengetahui apa pun, lalu sang mama mengajaknya pergi masuk ke dalam istana dan mulai menjelaskan tentang semua yang terjadi, bahwa saat dia ber umur 3 tahun dia dan orang tuanya berteleportasi ke dunia manusia dan meninggalkan dunia elemen dan kerajaan api karena sejak kecil sampai lexa atau Olivia berumur 8 tahun dia belum mengeluarkan tanda tanda kekuatan istimewa keluarga kerajaan yang seharusnya sudah muncul saat dia ber umur 4 sampai 5 tahun jadi orang tuanya pun memutuskan untuk meninggalkan Olivia di dunia manusia karena dia lebih mirip dengan manusia,

Cerita yang di sampaikan mamanya membuat Olivia marah kepada orang tuanya dan kemudian dia bertekad kalau dia bisa menunjukkan kepada orang tuanya kalau dia itu mempunyai bakat yang terpendam, " ma ini nggak adil buat aku" Olivia marah kepada mamanya, kemarahan nya terdengar oleh kakak kandung Olivia, dia adalah orang yang memenjarakan Olivia saat dia pertama kali menginjakkan kaki di sini, namun Olivia tidak tau kalau itu kakaknya karena dia dibawa pergi orang tuanya di masih kecil

" Apa yang kamu lakukan lagi disini" tanya pangeran Oris
" Apa yang aku lakukan disini kamu gak perlu tau" jawab Olivia ketus sambil pergi meninggalkan tempat tersebut

Pangeran Oris mulai jengkel dengan gadis itu, lalu dia bertanya kepada ibunya
" Ibunda siapa dia?mengapa ibunda mengenalnya?"
" Itu adikmu Oris"
" Bagaimana bisa, sosok tak punya keistimewaan seperti dia masih ibunda anggap anak, bukanya ibunda sudah membuangnya saat di dunia manusia, dan membuat berita bahwa dia hilang secara tiba tiba, aku sebagai anggota kerajaan api tidak bisa menerima dia sebagai tuan putri "
" Ibu tau Oris memang kita seluruh anggota kerajaan api sudah membuangnya, dia memang tidak berguna, sebagai anggota kerajaan memang tak sehebat kamu, dia juga lemah tak punya kekuatan apapun"

Olivia yang menguping pembicaraan mereka merasa marah tentang apa yang telah dilakukan orang tua dan seluruh keluarga nya kepadanya, dan dia membenci mamanya yang kejam karena sudah membuangnya begitu saja lalu dia langsung meninggalkan istana itu

" Yah ibunda kan sudah tau sendiri" kata pangeran Oris
" Tapi sebagai orang tua ibu sungguh rindu dengan Olivia"
" Bagaimana kalau kita buat tantangan untuk Olivia Jika dia bisa mengalahkan ku dia bisa menjadi tuan putri kerajaan ini"

 Dari arah pintu terdengar suara memanggil pangeran oris
" Oris, hazzel apa yang kalian ributkan?" Tanya raja theodore, ayah Oris
" Ayah aku baru saja membahas tentang Olivia bersama ibu"
" Olivia? Oris  Ada apa dengannya?
" Theodore, olivia datang ke dunia ini"
" Tidak mungkin hazzel dia berada di dunia manusia, dan dia juga tidak punya kemampuan apapun , apa lagi teleportasi"
" Aku yakin Theodore dia pasti punya kemampuan tersembunyi"
" Ayah , ibu jika kita menantang Olivia untuk bertanding melawanku itu pasti seru" seru Oris sambil terkekeh
" Baik Oris idemu bagus, ayah setuju dan itu juga dapat membuktikan apakah Olivia jadi anggota kerajaan"
" Tapi Olivia akan kewalahan melawanmu , Oris kamu sudah terkenal sebagai pemain pedang api yang hebat"
" Hazzel tenang saja, jika dia memang mampu pasti dia bisa"

Lalu ratu hazzel menyetujui saran mereka dan Oris mulai menyuruh pengawal untuk mengirimkan surat yang dia tulis yang berisi tentang tantangannya kepada Olivia, setelah surat itu sampai pada olivia, Olivia marah membaca apa yang ada dalam surat itu, karena dia dibutakan dengan kemarahannya dia menyetujui tantangan Oris, dan memilih untuk perang melawan kakaknya

Olivia bingung dia harus meminta bantuan siapa untuk mengajari nya melawan kakaknya, lalu Olivia teringat dengan charlos, dia adalah kesatria hebat pasti dia bisa membantunya. Lalu Olivia menemui charlos dan mengutarakan bantuan yang dia minta , tanpa basa basi charlos langsung menyetujui nya
Udara yang dingin dan langit yang gelal menuju terang Olivia memulai latiannya dengan charlos di dekat hutan, setelah beberapa melatih Olivia charlos mengetahui bahwa dia adalah tipe bayangan api dia adalah petter yang langka, charlos bertanya kepada olivia mengapa dia sampai bisa di tantang  pengeran Oris, lalu Olivia menceritakan semua hal tentang apa yang terjadi
“ pantas saja waktu kecil kekuatan mu tidak terlihat, karena tipe kekuatan mu adalah bayangan api itu adalah kemampuan atau kekuatan yang sangat langka” Ucap charlos kepada Olivia
“ apakah kamu masih dapat membantuku?” Tanya Olivia
“ aku dapat membantumu, tapi aku masih perlu sedikit mempelajari tentang kemampuan bayangan api di dalam buku yang pernah aku baca, jadi untuk hari ini latihan nya sampai disini , kita lanjut besok pagi”
“ Baik lah”
Setiap hari mereka berdua latihan di saat mereka latihan ratu hazzel atau ibunya Olivia diam diam melihat putrinya tersebut latihan dan dia merasa senang karena dia bisa melihat kalau putrinya tersebut mempunyai kemampuan dan masih punya harapan untuk kembali berkumpul dengan nya lagi, bukan hanya ibunya yang selalu melihat nya latihan kadang kala kalanya melihat nya latihan secara diam diam dan kakaknya merasa senang karena pada dasarnya dia memberikan adiknya tantangan itu hanya pura pura semata agar sang adik yang dia sayang i itu dapat kembali ke istana kembali. Namun pada suatu ketika pangeran Oris memantau mereka latihan dia membuat drama seolah dia tidak suka karena ksatria charlos mengajari nya.
“ Ksatria charlos, apa yang kamu lakukan di sini?”
“ yang mulia pangeran , saya di sini membantu putri olivia belajar bertarung”
“ ksatria charlos sekarang ikut saya, saya akan kurung kamu ke penjara karena sudah membantu rival saya”
“ Pangeran Oris , charlos tidak bersalah”
“ Sudah cukup diam kamu Olivia”
“ Tapi pangeran Oris”
“ Ingat hari pertandingan tinggal 1 Minggu lagi, saya jamin kamu pasti akan kalah dari saya” pangeran Oris berkata dengan senyuman sinis di mulutnya

Setelah kejadian itu Olivia tak pernah berhenti untuk latihan, siang sore malam dia berlatih sendiri an. Sampai hari pertandingan tiba, pertandingan yang di adakan di istana kerajaan api dan disaksikan oleh raja, ratu dan seluruh ksatia dan prajurit.

“ mari kita mulai pertandingan kali” kata wasit
“ Mari kita mulai Olivia , hahahaha”
Olivia menunduk untuk mengumpulkan konsentrasi agar dia bisa membuat satu bayanga  benda untuk melawan Oris, namun Oris dengan cekatan memotong jari jari bayangan yang ingin melukai nya dengan pedang api yang di miliki nya , namun Oris kuwalahan karena Olivia membentuk bayangan pistol benda yang tidak ada di dunia elemen ini namun ada di dunia manusia, karena pistol tersebut Olivia memenangkan pertandingan babak pertama
“ Wah Olivia kemampuan mu hebat juga” puji pangeran Oris
“ Terimakasih pangeran Oris” berkata dengan penuh kesombongan
Tiba tiba datang ibu Olivia atau ratu hazzel, dia memberikan semangat kepada Olivia kan memberikan selamat kepadanya, namun Olivia menganggap itu hanya tipu muslihat ibunya biar dia kalah, sejujurnya di hati nya yang paling dalam dia sangat senang ibunya memberikan nya semangat tapi semua itu tertutupi oleh rasa dendam yang ada dalam hati nya karena perbuatan ibunya dulu
Ronde kedua pun di mulai kembali, namun olivia bingung harus menggunakan jurus bayangan api seperti apa ketika dia lengah karena bingung memikirkan apa yang harus dia perbuat pangeran Oris mendapat satu sabetan dari pedang nya yang melukai Olivia cukup parah, Namun Olivia tetap tidak menyerah dan bangkit kembali, dia membuat bayangkan kupu kupu api yang sangat banyak sehingga membuat pandangan pangeran Oris terhalangi dan dia memulai menyabet pangeran Oris dengan pedang api bayangan namun karena kemampuan pangeran Oris yang cukup hebat dalam menggunakan pedang api jadi dia dapat menangkis serangan olivia dan membuat Olivia tersungkur ke tanah dan pada ronde ini pangeran Oris lah yang menang

“ Olivia bagaimana keadaan mu “ tanya nenek deka
“ Olivia sayang kamu baik baik saja kan , mama khawatir banget sama kamu” tanya ratu hazzel
Olivia melihat kesungguhan ratu hazzel dan hatinya mulai luluh namun rasa dendam nya masih tetap ada
“ kamu Cuma berpura pura gak usah sok peduli” ketus Olivia kepada ibu nya
Lalu dengan raut wajah sedih ibunya pergi
“ Olivia kamu nggak boleh begitu, walaupun ibumu pernah tidak adil kepada kamu , nenek bisa lihat penyesalan dan kesungguhan di dalam matanya, jadi hilangkan rasa dendammu nak, dan kamu lebih baik tunjukkan saja pada mereka kalau kamu bisa lalu maafkan mereka itu lebih baik nak, kamu pasti akan lebih bahagia jika bisa hidup damai dengan keluarga mu kan?” nenek deka menasehati Olivia
Olivia tersadar dengan kata kata nenek deka , dan membulatkan semangat untuk memenangkan pertandingan lalu memaafkan mereka dan bisa berkumpul dengan papa, mama dan kakak
Dan akhirnya pertandingan akhirnya Sekarang pun dimulai pertandingan yang menjadi penentu apakah Olivia layak bersama keluarga nya atau kah Olivia harus pergi dari keluarga nya selamanya
“ aku dapat pastikan aku pasti menang melawan mu Oris”
“ Kita lihat saja nanti”
Saat pertandingan di mulai Olivia mengeluarkan jurus bayangan diri namun dapat dikalahkan oleh Oris lalu Olivia membuat bayangan pistol karena Oris sudah tau cara guna benda itu akhirnya dia bisa mengalahkan Olivia, dan Olivia tersungkur ke tanah tapi dengan segala tekat nya dia diam sembari mengumpul kan tenaga dan tanpa sadar dia dapat menyerap tenaga orang orang di sekitar dan dapat membuat sebuah bayangan naga yang cukup kuat dan besar , Oris yang melihat kejadian itu dia merasa takjub dan kaget tapi Oris masih tetap berusaha keran melawan naga bayang api buatan olivia, sampai seluruh tenaga Oris habis masih tidak dapat mengalahkan Olivia dan pertandingan ini di menangkan oleh Olivia
“ selamat  ya Olivia kamu hebat, mama bangga sama kamu , maaf kan mama setelah apa yang mama lakukan selama ini , mama benar benar menyesal sayang”
“ mama Lexa eh Olivia  sudah maafin mama, olivia juga salah sudah bentak bentak mama, maafin Olivia ya ma”
“ Iyha sayang terimakasih, kita sekarang bisa kumpul bersama sama”
Seluruh keluarga Olivia menghampiri nya
“ Olivia kamu hebat ya, kak Oris sebenarnya sudah tau tentang kemampuan mu saat kamu latihan degan charlos, namun kakak sembunyikan dari ayah dan ibu agar kamu bisa tunjukkan langsung kepada mereka”
“ Kakak tapi kenapa kamu menahan charlos ?”
“ Hehe maafin kakak ya atas semua perlakuan kakak, kakak hanya ingin yang terbaik buat kamu, kakak sayang kamu”
“ Iyha kak Olivia maafin tapi bebaskan charlos ya”
“ siap tuan putri bayangan”
“ olivia” panggil ayahnya
“ Papa” olivia lari sambil memeluk ayahnya
“Maafin papa ya, papa nggak tegas dan nggak pinter dalam menilau kamu hingga akhirnya kamu harus terbuang”
“ iya pa gak apa apa kok, Olivia kangen banget sama papa”
“ iya sayang papa juga kangen kamu”
Setelah kejadian ini semua keluarga berkumpul dan membuat pesta rakyat untuk menyambut tuan putri dari kerajaan elemen api. Olivia hidup bahagia dengan keluarga nya.
more »

Minggu, 16 Februari 2020

Dissappear | Cerpen Karya Luluk Ezilina


Jalan raya yang padat dipenuhi kendaraan beroda. Aku melihatnya dari atas sini pun lelah dengan suara bising bunyi klakson yang mengganggu kosentrasiku untuk mengendarai tongkat yang menjelma menjadi tunggangan terbangku saat ini. Untung aku cekatan kalau tidak sudah dipastikan akan jadi santapan para jin penghuni tetap jalanan yang mencari tumbal.

Uh.. ini bukan dunia manusia, aku lupa itu. Aku bukan sejenis penyihir yang ingin menyamai manusia. Meskipun fisik kita sama tapi maaf kemampuan kita berbeda, kita bukan seperti dukun peramal yang sok tahu tentang takdir seseorang ataupun dukun beranak.

Ada dua jenis penyihir disini-- karanganku sendiri sih-- penyihir sepertiku yang masih mempertahankan eksistensinya, contohnya, menggunakan tongkatnya untuk berpergian. Tapi kalau penyihir yang menggunakan tunggangan seperti dibawah sana --ada benda bulatnya yang berfungsi untuk tumpuan berjalan-- adalah penyihir yang ingin menyamai gaya modern manusia.

Sebenarnya aku hanya sedikit jengkel saja dengan kelakuan beberapa manusia yang merasa hebat dengan kemampuannya yang tidak seberapa itu, dan tentu saja itu dibantu oleh jin. Memangnya manusia bisa?

Kenapa tidak dipakai saja otaknya yang konon katanya lebih cerdas dari binatang. tidak usah banyak bertingkah. Aku merasa tersinggung dengan itu, kekuatanku terasa ternodai. Kita penyihir yang sudah susah payah untuk mengembangkan kekuatan murni kita yang sudah ada sejak lahir untuk mendamaikan dunia kita masing-masing. Manusia itupun dengan seenaknya menanamkan kekuatan hitam dan parahnya lagi itu dibuat bahan leluconan oleh beberapa orang. Memang sih di dunia sihir ada hantu gentayangan tapi sangat jarang sekali untuk mengganggu, bahkan menampakkan diri saja tidak pernah.

Menanti kembali kedunia pusat sihir, untuk melihat festival dipasar kota. Datang kesini --dunia duplikat--, hanya bermain melihat-lihat saja, tidak ada yang lebih. Dan untuk kembali kedunia pusat sihir harus melewati pintu rahasiaku yang aku buat sendiri. Kalau ingin melewati gerbang umum aku pasti harus berurusan dengan ayahku.

Itu aku melihatnya! saking girangnya aku memekik dalam hati. Setelah bertahan lama dari keadaan tangan kesemutan dan telinga yang berdengung ditengah jalanan yang padat tadi --meskipun tidak banyak mempengaruhi perjalananku karena aku terbang-- aku bernafas lega.

Disana terlihat ada bangunan dengan atap berwarna cokelat. Aku menurunkan kecepatan tongkatku untuk mendaratkannya lebih rendah lagi. saat kaki dirasa menapaki tanah bersamaan dengan itu Aku turun dari atas tongkat. Dan mengulurkan sebelah tangan hendak menegakkan tongkat yang masih mengambang di sampingku, yang asalnya panjang sekejab itu ia berubah ukuran menjadi normal layaknya tongkat pada umumnya.

Bangunan yang berbentuk menyerupai kubus itu hampir seluruhnya terbuat dari kaca, dan terlihat tampak jelas dari sini kalau pemandangan di dalam sana kosong tidak ada siapapun. di luarnya terdapat taman dengan dikelilingi banyak tanaman. Ketika melewati jalan setapak yang mengarahkan pada pintu besar berbentuk lengkung berbelah setengah diujung sana.

Setelah membuka pintu yang ternyata cukup ringan walau sekilas terlihat sangat berat. Ruangan ini tampak lengah tidak ada apapun disini kecuali lampu gantungan besar diatap, tepat di atas kepalaku.

"Lone." merasa nama itu terpanggil untukku, aku menoleh ke belakang. Tepat pada pintu masuk terdapat corny --gadis berkuncir dua dengan dres penyihirnya berwarna kuning-- melangkah menuju kearahku dengan langkah sedikit tergesa.

"Ada apa?" Mataku menelisik bingung melihat raut muka corny yang kelelahan seperti habis mencari sesuatu.

"Kamu dari mana saja, aku mencari mu dari tadi ternyata kamu disini." Ah, Ternyata dia mencariku. Lucu sekali dia menapku seperti aku seorang buronan disini.

"Kau mencariku? Cuma dirimu, bagaimana dengan yang lain?" Sedikit jengkel memang, kenapa hanya aku yang tidak diperbolehkan keluar masuk ke dunia duplikat, kecuali harus meminta izin terlebih dahulu pada pimpinan pusat. Pada dasarnya kan memang semua kalangan penyihir boleh keluar masuk tanpa perizinan sekalipun. Kenapa aku tidak? Ini tidak adil. Aku mendengus mengingat hal itu.

Hembusan nafas lelah keluar dari mulut corny, ia harus sabar menghadapi temannya yang mulai jengah dengan keberadaannya. "Ayolah jangan pikirkan hal itu, itu demi kebaikanmu. Kau kan juga benci dengan semua hal yang berbau manusia. kenapa juga kau harus pergi ke ruang duplikat ini yang tentu saja itu membuatmu semakin meningkatkan rasa bencimu pada manusia?"
Jujur mendengar apa yang dikatakan lone, temannya, memang ia juga merasa tidak adil atas perlakuan pimpinan kepada temannya. Dengan kenyataan pimpinan itu merupakan ayahnya kenapa tidak memperbolehkan putrinya bersenang-senang menghirup udara kebebasan saat ia merasa dunia pusat seperti penjara bagi temannya.

"Itu lebih baik dari pada terkurung dipenjara tak kasat mata yang membosankan itu."
aku mulai kesal dengan percakapan ini. Saat menyadari sesuatu aku melayangkan tatapan menyelidik pada corny.

"Dan. ah ya, kenapa juga kamu ikut andil dalam penangkapan buronan ini? Kau ini berpihak pada siapa huh? Aku tahu itu paksaan dari ayahku tapi tidak bisakah kamu berpura pura untuk tidak mengetahui keberadaanku?" Sekilas dia terlihat merasa kelagapan dengan apa yang kulontarkan padanya. Dengan sedikit menjahilinya mungkin akan seru, Tanganku mulai bersedekap menambah kegugupannya. Meminta penjelasaannya terhadap apa yang dilakukannya akhir akhir ini yang baru ku sadari.

"Tidak seperti itu maksutku. Aku hanya tidak ingin kamu dihukum oleh ayahmu. Beruntung ayahmu tidak memerintahkan penjaganya untuk mencarimu." Nada bicaranya terdengar gugup ketara sekali, biasanya orang akan berbicara terbata saat sedang gugup tapi ia berbicara dengan cepat. Itulah dia saat mengatasi kegugupannya, aku sangat mengenalnya.

"Ayahku memintamu agar aku dipastikan untuk kembali tanpa pemberontakan kan? Karena ayahku mengerti aku tidak akan tega denganmu. Tenang saja aku tidak akan kemana-mana, aku sudah hafal dengan jalan pulangku." Langsung saja aku memalingkan wajahku kearah lain setelah berkata seperti itu padanya.

Maaf aku tidak bermaksut berbicara sarkas padamu, tapi ini untuk membuatmu agar mengerti. Tidak usah dengarkan ayahku dan jangan takut padanya.

"Maaf, lain kali aku akan berpura-pura." Melihatnya menunduk dan memilin jarinya membuatku tidak tega melihatnya seperti itu. Tandanya dia sangat menyesal setelah membuatku jengkel seperti ini.

"Tapi aku tidak menyesal telah mencarimu. Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Kamu tahu kan betapa cerobohnya dirimu saat sedang sendirian?" Dia mendongakkan kepala saat itu juga dan jangan lupakan wajah kekanakannya, mata berbinar, dan suaranya yang terlalu bersemangat itu.
Aku melototkan mata untuknya.

Ah aku menyesal telah mengasihaninya, aku tarik kata kata ku tadi. Dia cengengesan seperti itu? Menampilkan wajah tak berdosanya?

"Aku bukan dirimu yang mengemut permen saja belepotan." Sedikit berdeham untuk meredamkan kekonyolan ini.

"Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku seharusnya bersyukur ayahku tidak meminta penjagaan ketat yang mengikuti ekorku setiap kali aku bergerak, atau mata-mata yang sampai keblabasan mengintipku saat mandi?" Suara langkah kaki ku mulai berbunyi mencegah suara perdebatan lebih lanjut lagi diruangan hening ini yang sebelumnya terlibat pedebatan kecil yang sedikit sensitif untukku.

Merasa ada yang memenuhi pikiranku, kaki ku dengan sendirinya berhenti melangkah, melirik sekilas kebelakang untuk berusaha meyakinkan apa yang ada dikepalaku.
"Kamu bukan termasuk yang kedua kan?" Walau aku tidak melihat raut wajahnya karena corny berdiri dibelakangku, aku mengetahui dia menggeleng kepalanya cepat.

"Sekarang ayo kita kembali aku sudah bosan dengan suasana disini."
Mungkin ini hanya perasaanku. Mencoba mengenyahkan pikiran yang tidak masuk akal itu, kakiku Melanjutkan langkah yang tertunda tadi untuk masuk lebih dalam lagi, dan menghilang dalam beberapa hitungan langkah, corny menyusul dibelakang.

**

Suara pintu tertutup, melihat ada sofa didepan sana aku mendekatinya dan merebahkan punggung ke sandaran sofa setelah meletakkan tongat di atas meja. Saat menoleh sekilas ke kanan untuk menatap corny yang masih mengunci gagang pintu, mataku mulai mengerjap lelah dan memejamkannya perlahan. "Jangan beritahu kepada siapapun soal pintu itu." Aku berharap dia mendengar gumaman pelanku ini.

"Aku mengerti. Aku tidak akan memberitahunya pada siapapun, terutama ayahmu." Karena terlalu malas, aku hanya menanggapinya dengan anggukan. Sebelum terhanyut lebih jauh, seketika teringat sesuatu aku langsung membuka mata dan mendapati corny sudah duduk diseberang sofa.

"Temani aku sekarang untuk pergi ke pasar kota. Aku ingin melihat-lihat disana." Mood ku serasa lebih segar dibanding tadi.

"Ku dengar dipasar kota juga ada festival, mau melihatnya?" Wajah berbinarnya langsung menyambut mood ku "rencananya aku mau mengajakmu tadi, tapi saat melihat wajah marah mu seperti itu tadi, jadi aku mengurungkannya." Wajah berbinar terganti dengan wajah tiba-tiba murung, tambahan bibir yang mengerucut kedepan membuat ia seperti bayi yang masih memakai popok.

"Kenapa mengurungkan niatmu? Kamu tahukan aku sangat menantikan festival ini. Dan kamu telat memberitahukannya karena aku sudah tahu terlebih dahulu." Senyum antusiasku membuat aku tidak ingin memarahinya. "Ayo kita melihatnya." Sungguh aku sangat bersemangat hari ini rasanya sudah sekian lama tidak berbaur dengan keramain.

"Tunggu." Aku menunda beranjak dari ruangan ini setelah berdiri mengangkat bokong dari sofa tempatku duduk saat mendengar penjegahan yang dilakukan corny.

"Apa lagi?" Suara membeoku membuat ia berjengkit ngeri.

"Maaf, bukan maksutku untuk mengganggu kesenanganmu. Tapi aku sarankan untuk melangsungkan kesenanganmu dengan menghilang dari sini secepatnya." Menggigit jarinya dia terlihat ragu mengatakannya.

"Kamu mengerti maksutku kan?" Jarinya yang baru saja digigit dikibaskan dibarengi cengengesannya.

"Tentu saja. Kenapa kamu baru mengingatkanku?" Aku mendekatinya dan mengulurkan tanganku pada nya. Dan langsung disambut oleh corny. Aku mulai merapalkan mantra yang tentu saja tidak akan membiarkan siapapun mengetahuinya. Karena hanya aku saja yang tahu.

Badan keduanya pelan-pelan menjadi transparan dan menghilang.

Ruangan ini sekejab menjadi hening. menyisakan aura hangat yang ditinggalkan oleh ke dua penyihir tadi.

**

Setelah dirasa berpindah lokasi aku menghirup udara sebanyak-banyak nya mencium aroma keramain udara luar. Saat aku membuka mata, yang benar saja ini di tengah kios yang penuh dengan penyihir dan itu mengundang keterjutan banyak orang disini. Pemilik kios yang berada disampingku--tertanda pin di dada kananya menunjukkan kalau dia pemilik kios, semua pemilik kios mempunyainya-- sampai memiringkan badanya dengan mulut yang terbuka dan kaca mata yang sedikit turun dari posisinya.

Menyadari hal itu aku mengumbar nyengir ke semua penyihir dan sedikit lambaian kearah mereka. Saat tidak ada yang bergerak dari posisi terkejut itu aku menggaruk tengguk yang tidak gatal.

"Lone." Suara corny menyadarkan keterjutan mereka semua. Corny berada diluar kios. Aku terkejut bingung, kenapa pendaratanku bisa berada disini?, sedangkan corny terpisah denganku dan sekarang dia diambang pintu melongokkan kepalanya kedalam kios.

"Kenapa pendaratanmu salah bisa ada disini?" Aku mulai tersadar dari kelinglungan saat menyadari corny sudah berada didepan ku, sekarang kurasakan tangannya menyentuh lenganku.

"Aku tidak tahu, mungkin saat pendaratan aku terlalu bersemangat, jadi kurang fokus." Kepalaku celingak-celinguk mulai menulusuri tempat ini dan semua penyihir kembali beraktivitas seperti biasa. "Untung tidak ada yang curiga." Ia menghela nafas lega sampai hirupannya mungkin terdengar ditelinga corny.

"Jangan lega dulu, mereka tidak curiga mungkin karena mereka menganggap hanya ramuan buatanmu saja yang bisa membuatmu menghilang seperti itu."
Alisnya kini menukik tajam untuk memojokkanku beserta rentetan ocehannya, membuatku lelah. "untung meraka tahu kalau kamu itu memang anak yang cerdas yang suka membuat ramuan-ramuan aneh."

Akhirnya mulut itu tersenyum lega.
Tapi itu hanya sesaat karena setelahnya ia kembali mengoceh. "Lihat, akibat kecerobohanmu mereka seperti manekin yang disusun sedemikian rupa untuk pemotretan."


"Aku kan tidak tahu, lupakan. anggap saja itu tidak pernah terjadi." Mengabaikan corny mengoceh lebih lanjut lagi aku mendahuluinya berjalan keluar kios. Ternyata kios ini berisi buku-buku yang tertata disemua sudut saat aku melewatinya.

"Kamu kenapa bisa sesantai itu sih? Kalau ada yang curiga kamu bisa teleportasi bagaimana?" Dia memelankan suaranya di kalimat terakhirnya didekat telingaku.

"Kenapa kamu yang khawatir, aku yang mempunyai kekuatan itu. Jadi tenang saja. Lagian katamu mereka tidak akan curiga karena mereka menganggap itu hanya ramuan biasa kan?" Biarkan saja dia mengoceh, aku sedang sibuk mengagumi keramaian festival ini saat berhasil keluar dari kios buku yang sekarang berada dibelakang punggungku.

Corny memberenggut kesal ia mencebikkkan bibir yang menambah kesan mungil saat pipi yang digembungkan menenggelamkan bibirnya, "kalau ayahmu mengetahuinya bagaimana? Kamu paham kan kalau kekuatanmu itu terbatas. Kamu tidak bisa melewati gerbang itu, dan kamu hanya bisa melakukannya disini. Aku tidak faham denganmu katamu kamu tidak suka manusia tapi kenapa masih keduplikat itu, aku tahu memang bukan manusia yang jadi penghuninya tapi kaum kita. Tapi yang berbau manusia kamu membencinya kan?"

Corny berkacak pinggang mengetahui ia diacuhkan oleh lone, ia mengoceh sebanyak apapun pasti ia tidak akan digubris oleh temanya itu karena dilihatnya lone sudah terhipnotis oleh sekitar. Jadi ia melontarkan pertanyaan terakhirnya yang membuat lone akan menoleh kepadanya.

"Aku tidak membencinya, aku hanya benci dengan kelakuan mereka yang berurusan dengan kekuatan hitam. Dan juga apa salahnya menikmati karya mereka? Walau diduplikat hanya penjiplakan karya mereka, setidaknya aku bisa merasakannya." Dan benar saja pancingan corny berhasil membuat lone secara cepat menoleh kepadanya.

"Kalau ayahku tau tidak masalah, kan tinggal tau. asalkan tidak mengetahui pintu itu." Lone kembali memandang kedepan untuk melanjutkan pencariannya. Sebelum itu ia bicara cepat pada corny, " jangan berbicara dengan ekspresi seperti itu saat berjalan dikeramaian. Itu memalukan."

Mendengar lone berbicara seperti itu padanya, membuat ia menunduk lesu. Tak sengaja matanya melihat gerobak penuh permen loly yang menggantung disetiap tepi payung. Ia kembali ceria, tinggal menunggu ia ngacir dan mengemut permen lolynya bersama anak kecil disampingya, sambil sama-sama menunggu induknya datang mencari mereka.

'Potion items ' . Itulah yang tertulis dipapan, terletak diatas pintu masuk sebuah kios. Didepannya terdapat gadis yang memakai dress warna ungu-birunya dan terdapat tongkat sihir --yang bagian ujung gagangnya terdapat kristal kecil berwarna sepadan dengan dress yang dipakainya-- dikaitkan dipinggangnya. Ia mendongak , bergumam membaca tulisan dipapan tersebut. Setelah berdiam sesaat, ia lenyap dimakan pintu masuk didepannya.
Ia mengabaikan temannya, yang sudah tentu ia ketahui kemana temannya itu pergi.

Inilah yang membuatnya bersemangat untuk menghadiri festival. Disinilah ia sekarang, dimana banyak rak-rak yang dipenuhi banyak ramuan dan tanaman lainnya yang langkah, untuk menciptakan ramuan baru yang sudah dicampur dengan ketelitian yang tepat. Sangat membantu banyak orang untuk keperluan sehari-hari. Yang dimana sangat jarang kios ini ada, kecuali festival seperti ini.

Hanya ada beberapa orang disini tidak seramai diluar sana maupun didalam kios buku tadi. Lone mencoba memulai mengelilingi rak yang berada dipojok depan sebelah kiri terlebih dahulu, setelah itu kepojok belakang. Dan saat ia tiba di rak pojok depan sebelah kanan, ia sudah menenteng dua ramuan dan tiga bibit tanaman yang sudah ia ambil di rak sebelumnya.

Sebelum matanya menelisik membaca nama ramuan yang berjejer di depannya, lone tersentak kaget oleh suara corny yang datang tiba-tiba. "Kenapa kau lama sekali, aku capek tahu menunggumu diluar sana sambil mengemut permen bersama anak kecil. Kau tahu aku dipandang aneh tadi oleh rombongan laki-laki yang tak sengaja lewat didepanku." Kenapa ia malah merajuk? Seharusnya ia sadar apa yang membuat ia dipandang seaneh itu.

"Kau tahu mengapa kau dipandang aneh tadi?" Melihat corny yang bersedekap merajuk, menggelengkan kepalanya, membuatku meneruskan kalimatku, "pikirkan yang mungkin tidak sadar apa yang kau lakukan tadi, dan berkacalah bagaimana penampilanmu saat ini." Saat melihatnya sedang memikirkan apa yang kuucapkan tadi, aku meninggalkannya begitu saja setelah aku mendapatkan ramuan yang kucari, dan menuju ke kasir untuk pembayaran.

Setelah meletakkan semua item ke atas meja kasir. Tiba-tiba meja tergoyang, tentu saja bukan ulah ku, masa iya aku hanya meletakkan barang yang tidak seberapa berat itu bisa menggoyangkan meja? Saat menemukan pelakunya yang berada disebelahku, aku memutar bola mata jengah.

"Apakah kau punya cermin? berikan padaku. Itu tidak akan lama." Corny bukan berbicara pada ku tapi kepada kakek tua yang berada diseberang meja kasir, didepan kami. Dia sangat tidak sopan.

Setelah kakek itu mencarikan cermin dan memberikannya pada corny, corny menjauh pergi dengan membawa cermin yang baru saja ia dapatkan.

"Berapa kek jadinya?" Lone bertanya saat barang yang ia beli di sodorkan oleh kakek penjaga kasir. Kakek itu bukan sekedar penjaga kasir tapi juga pemilik kios ini.

"Semampumu cu." Ucap kakek seraya mengulas senyum. Penampilan kakek itu cukup sedehana. Hanya pakaian penyihir yang berwarna cokelatnya dengan pin bulat berukiran rumit, berbeda dengan pin yang berada di samping kanan dada tanda kepemilikan kios, kaca mata yang bertengger di hidungnya, rambut yang dominan warna putih dan sedikit warna kecokelatan, dan warna mata birunya yang terang walau mengingat ia sudah bau tanah.

Tersadar dari pengamatannya. Lone gelagapan saat menangkap apa yang ia dengar. "Ah, benarkah? Baiklah kalau begitu, aku bawa pergi dulu barang ini. Karena aku lupa tidak bawa uang. Berarti ini gratis kan? Baiklah sampai jumpa, terima kasih sudah hadir di festival ini." Lone menyungingkan senyum yang amat sangat berterima kasih.

Kakek itu tersenyum menggelengkan kepala saat lone beranjak dari depannya. Dan melanjutkan aktivitas yang tertundanya membaca berita dan secangkir kopi yang menemaninya.

Lone menepuk pelan pundak corny yang sedang sibuk berkaca dan mengamati dirinya apabila ada yang kurang.

Yang ditepuk menoleh langsung, menyodorkan pertanyaan untuk lone. "Lone. Ada apa dengan penampilanku? Menurutku tidak ada yang aneh sama sekali dengan penampilanku, apalagi wajahku."

"Ayo, kembalikan cermin itu. Aku sudah selesai." Dengan membawa barangnya lone berjalan santai menuju pintu keluar.

Disini sangat ramai, banyak orang yang berlalu lalang, termasuk anak kecil. Banyak kios-kios yang menjual barang-barang yang jarang dijumpai. Bahkan semua wahana disini tidak ada yang sepi oleh kedatangan anak-anak.

Lone tersenyum melihatnya. Sangat jarang sekali melihat pemandangan seperti ini. Anak-anak berlari tertawa dengan apa yang mereka bilang lucu. Suara bising para perempuan yang menawar harga untuk apa yang akan mereka beli. Disetiap kios tidak ada yang sepi. Kuliner yang siap memanjakan hidung untuk menghirup aromanya.

Corny menyusul lone, menyamakan langkah kaki lone yang sekarang sedang menatap kagum pada apa yang dilihatnya dengan menenteng barang belanjaannya.

"Lone cepat beritahu aku. Apa maksutmu dengan penampilanku?"

"Katamu tadi bersama anak kecil kan? Itu yang membuatmu aneh, dan lihat penampilanmu yang seperti anak kecil ini."
Corny melongo dengan ungkapan lone yang mengomentari penampilannya.

"menurutku ini tidak aneh, ini trend tahu. Dan apa salahnya duduk bersama anak kecil?" Corny melengoskan kepalanya.

"Membuatmu menambah kesan anak kecil."
Lone mendengus dibuatnya. "Sudahlah kita pulang. Dari pada disini bersama anak kecil."

"Kau tega." Corny memberenggut dan dengan tergesa mendahului lone yang sudah berjalan didepannya, setelah dengan sengaja ia menyenggol pundak lone dengan keras.

"Dasar bayi besar!" Teriak lone pada corny yang semakin menjauh dari pandangannya, tenggelam bersama lautan penyihir.

Sampai didepan pintu besar setelah melewati gerbang didepan sana. Lone masuk tanpa menyentuh pintu, karena otomatis pintu terbuka sendiri dengan apa yang pemilik rumah pikirkan. Dengan kata lain pintu itu bisa membaca pikiran dengan cara memberinya ramuan mind reader.

Disambut aula yang begitu luas dan nampan yang terdapat sayap kecil putih dikedua sisinya, berada didepannya menawarkan dirinya untuk dijadikan tadahan.

Lone meletakkan kantong yang dibawanya diatas nampan. "Ikuti aku." Perintah lone pada nampan dan nampan itu langsung mengikuti kemana lone pergi.

Sampai didepan pintu kamar. Sama seperti yang tadi pintu otamatis terbuka, tapi berbeda dengan ini yang hanya bisa membaca pikiran lone. Jadi orang lain harus meminta izin dulu untuk masuk ke ruang private-nya.

"Taruh di atas meja belajar." Lone mengambil kursi untuk ia duduki didepan meja belajar yang berada tidak jauh dari ranjangnya.

"Terima kasih." Setelah lone mengucapkan itu, flying tray pergi dari kamar lone.

Sudah tidak sabar dengan apa yang ada didalam kantong belanjaannya. Lone mengeluarkan potion dan bibit tanaman keluar dari kantong yang terbuat dari jerami.

Ia biasanya menggarap semua ramuannya disini. Kalau ada yang bertanya, kenapa tidak di diruangan rahasia itu? Ia akan menjawab, karena kalau di ruang rahasia ayahnya pasti akan curiga dimana ia membuat semua ramuannya. Dan ayahnya akan bertindak mencari tahunya sendiri dengan berbagai cara, dan pasti ia akan mengobrak- abrik kamarku. Kalau beruntung ruang rahasia tidak diketahui itu sangat melegakan. Kalau tidak bagaimana? Ada yang bisa jawab?

Kalau masih ada yang membantah lagi. kalau dikamar ada penelusup bagaimana? Lalu ramuanmu itu akan dicampur dengan ramuan yang berbahaya dan membuat ramuanmu gagal. Dan sekali lagi akan ia jawab dengab tegas, itu tidak akan pernah terjadi, karena pintu kamarku tidak seperti pintu kamar kalian. Maafkan kalau ia sedikit sombong.

Tanpa sengaja ku lihat, kristal yang berada diujung gagang tongkat sihirku menyala pertanda ada yang mengirim sinyal, dan itu pasti ayahku.

Item yang tadinya sudah ia keluarkan, sekarang ia masukkan kembali ke kantong jerami. Dan bergegas keluar kamar.

"Ayah!" Panggilku tiba-tiba setelah masuk ruang kerja ayah dengan menggebrak pintu dengan keras.

"Lone. Kamu dari mana saja?" Suara seruan ayahnya yang begitu berat membuat aura ketegasan terpancar mengelilingi ayahnya. Tapi itu tidak menyurutkan keberanian lone yang saat ini sudah duduk tenang dikursi depan meja kerja ayahnya. Bertatap muka dengan ayahnya yang berada didepanya, hanya dipisahkan oleh meja kerja.

"Menghirup udara segar." Balas lone dengan memperlihatkan deretan giginya, terlihat sama sekali tidak niat melakukan hal itu memang.

"Ayah akan memaafkanmu, tapi kalau sekali-kali ayah mengetahui kamu keluar dari gerbang tanpa meminta izin pada ayah. Kamu tidak akan bisa keluar lagi dari sini. Ayah memperingatkanmu lone."
Tatapan mata ayahnya yang menyorot tajam kearah lone, membuat lone berdecak saat melihat ayahnya menatapnya seperti ini, ia tidak menyukainya.

"Silahkan saja ayah mau bertindak seperti apa. Yang pasti itu tidak mungkin."
Tapi ayah, aku tidak pernah keluar dari gerbang

"Kamu menentang ayah? Lone! Ini demi kebaikanmu!"

"Kalau ini demi kebaikan lone, kenapa ayah tidak memperbolehkan lone untuk bebas?" Intonasi lone ikut meninggi setelah ayahnya membentaknya tadi.

"Kamu tahu kan ayah tidak memperbolehkan mu karena ayah takut nanti kamu terpengaruh dengan keadaan diluar sana, di dunia duplikat." Ayahnya mencoba mengatur nafasnya untuk meredam kemarahaannya.

"Sudah pernah lone katakan Ayah. Ayah tenang saja, lone tidak akan terpengaruh semudah itu. Kenapa ayah tidak percaya itu?"

Beberapa detik setelah membiarkan ayahnya berfikir seperti sesuatu yang penting, membuat lone was-was dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Bagaimana dengan kamu yang bisa pergi keluar dari gerbang tanpa sepengetahuan penjaga lone?"

Dan benar saja apa yang dipikirkannya. Itu adalah pertanyaan yang paling lone hindari. Menyembunyikan sesuatu dari ayahnya pasti akan terbongkar dalam waktu dekat.

"Ayah tidak perlu tahu." Lone mennyanggah pertanyaan ayahnya dengan begitu tenang. Berusaha untuk menyembunyikan rasa was-was nya.

"Ayah harap kamu tidak menyembunyikan apapun dari ayah lone." Ayah berdiri dari kursinya dan beranjak menuju sofa santainya yang berada di belakang lone.

"Tidak ada apapun yang lone sembunyikan dari ayah. Kalau iya itu pasti akan ayah ketahui secepatnya, benarkan yah?" Terkekeh dengan apa yang ia ucapkan sendiri. Lone berusaha menetapkan posisinya yang memunggungi ayahnya, menatap lurus ke depan. Tidak ada niatan untuk menoleh kebelakang dimana ayahnya berada.

"Aku ingin meminta penjelasan dari ayah. kenapa ayah hanya mengecualikan aku? Sedangkan penyihir lain disana diperbolehkan?"

"Itu tidak semudah apa yang kamu pikirkan lone. Harus memenuhi beberapa hal untuk memasuki dunia itu." Suara seruputan orang yang sedang minum terdengar ditelinga lone.

"Aku tidak mengerti maksud ayah." Memutar balik kursinya untuk melihat lebih jelas mimik muka ayahnya.

"Ayah akan mejelaskannya. Tapi berjanjilah dulu kepada ayah, setelah ini kamu tidak boleh kesana lagi tanpa perizinan ayah." Myron-ayah lone- memandang putrinya dengan tatapan sendu.

"Tergantung."
Ayahnya menghela nafas panjang mendengar respon lone.

"Apa susahnya kamu meminta izin pada ayah terlebih dahulu? Kamu bahkan akan mendapat penjagaan yang aman lone." Tatapan myron kembali lebih tegas.

"Itu yang lone tidak suka ayah. Aku tidak suka dikawal seperti itu. Aku ingin pergi dengan bebas ayah, tidak dibatasi seperti ini." Lone berusaha nada bicaranya tidak merengek untuk saat ini.

"Lone juga dapat menjaga diri lone sendiri." Lirih lone dengan nada memohon. Pertahanan untuk tetap tegas seperti ayahnya runtuh. Lone mengalah saat ini. Tidak ada yang menyaingi ketegasan ayahnya bahkan putrinya sendiri.

"Disana bahaya lone. Tidak seperti apa yang kamu lihat." Pria yang berumur itu memejamkan matanya untuk memanimalisir rasa takut yang mulai merambatinya.

"Apa yang dimaksud dengan bahaya menurut ayah? Seberapa besar bahaya yang ayah maksudkan disini?" Gadis yang duduk dikursi putar terlihat frustasi memikirkan hal ini.

Mengambil nafas sebanyak banyak untuk bersiap menceritakan hal yang rahasia kepada putrinya. Myron menunduk, menopang dagunya dengan tangan mengepal gelisah untuk mulai awalan cerita. "Kamu tahu sekarang ini kaum penyihir tidak sebanyak dulu. Maksud ayah darah murni seorang penyihir itu hanya padamu. Termasuk Keluarga kerajaan ini."

Mengambil nafas sejenak myron menatap putrinya yang terlihat mencermati apa ia katakan. Mimik wajah putrinya kini berubah terkejut.

Ingin melajutkan tapi tidak tega dengan raut wajah putrinya.
"Diluar sana kebanyakan penyihir pencampuran manusia, kekuatan mereka tidak sesempurna kekuatan kita yang murni seorang penyihir. Maka tak heran kamu bisa membuat banyak ramuan unik."

"Mereka menetap disana kebanyakan memilih untuk tidak pernah menggunakan kekuatan mereka. Dan itu berakibat mereka mengubur kekuatan mereka sendiri. Dan semakin lama tidak digunakan, Itu akan memusnahkan kekuatan mereka selamnya."
Sekali lagi myron menoleh untuk melihat kondisi putrinya. Putrinya terlihat linglung saat mata mereka bertemu. Kosong.

"Maka dari itu ayah melarang mu untuk pergi kesana, takut kamu juga akan berada diantara salah satu dari mereka. Tidak memiliki kekuatan tandanya kamu melenyapkan eksistensi penyihir murni."
Myron mendekati putrinya yang sekarang terlihat kaku tidak bergerak. Saat ia berada didepan lone ia mengelus puncak kepala putrinya itu lalu turun kepipinya.

"Benarkah apa yang dikatakan ayah? Ayah todak berbohong kan?" Mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang diucapkan ayahnya memang benar, ia memikirkan pertannyaan yang sama berulang kali.

Ia tidak akan menerima apabila ayahnya ternyata berbohong hanya soal ia tidak boleh keluar dari sini.

"Ayah tidak mungkin berbohong soal ini lone." Myron menganggukkan kepala mencoba meyakinkan putrinya.

"Apa kamu tidak marah soal ini? Soal ayah baru memberitahu hal ini?" Ayahnya berjongkok dihadapannya. Tangannya menyampirkan rambut yang menutupi sebagian wajah putrinya.

"Tidak, ayah pasti mempunyai alasan lain." Ia tersenyum. Ia pikir ia akan menuruti perintah ayah kali ini.

"Tapi ayah, aku tidak mau dibuntuti terus oleh pengawal ayah, aku tidak mau." Wajah memohon kembali terlihat jelas diwajah putrinya. Ia kembali memikirkan apa yang akan menjadi keputusannya.

Sekali ia menghela nafas, ia kembali mengangguk menyetujui. "Ayah sekarang percaya padamu. jadi jangan sia-sia kan kepercaan ini hm?"

"Makasih ayah." Dia sangat bahagia sekarang. Itu adalah salah satu mimpinya untuk bebas dari mata-mata ayah. Sampai bahagianya ia memelum erat ayahnya dan tidak berhenti mengucapkan terimakasih. Ia lupa kapan terakhir kalinya momen seperti ini akan terjadi lagi saat ini.
more »

Jumat, 13 Desember 2019

Cerita yang Bisa Kau Dengar dari Angkot Anak SMA | Cerpen Karya Tsabitah Tholi'atul Haq Alfaruq

 
Ilustrasi diambil dari website Radar Solo
Ada cerita tentang perjalanan seseorang saat pulang sekolah. Namanya Pipit, ia jarang pake banget pulang sekolah pakai angkot, tapi tuk sekarang ini ia harus pasrah menggunakan angkot sebagai transportasi, karena ia mendapat hukuman dari papanya. Masalah nya sepele, Pipit putus dengan Alan, sedangkan papanya sudah merestui hubungan mereka. Nah putusnya Pipit dengan si Alan juga karena masalah sepele. Yaitu Alan lupa kalau ia harus belikan pentolnya kak Tsul. Pipit akhirnya putus dengan si Alan.

Alhasil ia dihukum oleh papanya, dan sialnya karena ia sudah putus dengan Alan ia terpaksa gk bisa minta temenin pulang. Rumah Pipit beda dengan temannya. Maka dari itu, sore tanggal 30 Desember 2030 ia pulang dengan angkot.saat di angkot ia merasa sumpek, mual, ingin rasanya ia keluar dari jendela angkot yang lagi jalan. Di tengah perjalanan, ada ibu ibu yang naik dan duduk di samping si Pipit. Ibu ibu itu sedang gosip entah itu membuat gita benar benar tak tertarik. Setelah itu ada bunyi notifikasi dari temennya tentang humor. Ia akhirnya senyum senyum sendiri tanpa tahu bahwa ia sejak tadi di liatin dgn orang orang. Setelah main hp, Pipit mandang keluar jendela. Tiba tiba pak sopir mengajak ngobrol penumpangnya.

"Tak ada masa yang indah, kecuali masa sma" ucap pak sopir sambil melihat kaca spion. Pipit tiba tiba tertegun kenapa pak sopir bicara seperti itu? Memang sih banyak orang yang mengaggap masa sma itu masa yang indah, tapi kan gk semuanya kok yang indah, batin si Pipit.
Ternyata ada ibu ibu rumpi tadi yang menanggapinya.
" iya tak ada kisah kasih yang waw kecuali masa sma ya bang?" Sambil tersenyum kepada Pipit. Melihat perlakuan ibu tadi, Pipit baru dong kalau mereka sedang membicarakannya secara halus. Setelah sadar akan hal itu, ia hanya membalas dengan senyuman palsu. Yah gimana nggak Pipit tahu arah pembicaraan mereka, yang membuat Pipit makin kesal. Tak hanya berhenti di situ mereka menyindir Pipit. Mereka masih tetap membicarakan seputar itu, yang membuat Pipit tak tahu apa yang harus ia lakukan, akhirnya ia hanya bisa tersenyum sambil berbicara di hati dan menumpat.
Lanjut trus aja.. nyinder saya, shit capek nih pura pura senyum, kenapa gak berhenti" sih....
Bahkan mereka sampai nekat dengan lebih terang terangan.
"Eh ni neng, cantik kenapa naik angkot saya atuh?" Ucap pak sopir itu dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Iya pak, anak cantik begini  pasti udah punya itu tu yang biasanya bersama, masak naik angkot beginian?" Ucap salah satu dari ibu ibu itu.
Akhirnya Pipit saking mangkelnya, ia pun menanggapi percakapan mereka
"Iya bu saya punya banyak pacar bu! Mereka merekanya lagi kerja ke luar negeri, dan gantengnya gak ada yang bisa ngalahkan!" Ucap Pipit dengan senyum yang dimanis maniskan meski dari kalimatnya sudah keliatan kalau Pipit sedang kesal. Dan ternyata.. oh namanya juga orang agak tua, pemahaman sudah mulai menurun. Mereka malah bertanya ke Pipit yang sudah berharap sebelum ia turun ia tidak ditanyai maupun disindir lagi. Dugaan Pipit salah besar.
"Eh.. sudah kerja?! Tapi kan neng lagi sekolah emang ada ya yang kayak gitu?"tanya pak sopir kepada gita.
"Emang ada kok, kalau gak ada, gak akan pacaran dengan mereka!"ucap Pipit sambil menanti kapan ia segera turun dari angkot.
"Eh gantengnya seberapa? Kok sampai orang indonesia gak bisa ngalahkan? Punya fotonya nduk?" Ucap ibu yang sejak tadi hanya diam menyimak.
"Punya kok bu, selalu dibawa everywhere and anywhere. Nih bu! Gantengkan!" Ucap Pipit sambil nunjukkan foto Park Chanyeol yang ada disakunya. Setelah ia nunjukkan foto itu, bertepatan dengan sampainya tujuan Pipit, akhirnya Pipit bergegas turun dari angkot sambil mengumpat, shit aku gak akan naik angkot itu lagi,


Pesan yang bisa diambil itu meski dengan orang lain yang mangkelkan hati kalau lebih tua jangan ngeggas ngomongnya.
Terus maaf jika ada nama yang sama harap maklum ini asal beri nama. []
more »

Think About It. | Cerpen Karya Novi.






"Belajarlah sayang, kok main hp terus. Nanti ga bisa ngisi soal ujian loh ya?". Bujuk ibu padaku.
"Sebentar lagi ya bu, ini temanku masih ada perlu". Sahut diriku.
"Sudahlah..", bujuk ibu kembali.
"Iya bu iya".
   Ibu kembali kekamarnya yang memang sedari tadi ingin menunaikan shalat, tetapi beliau jeda hanya untuk mengingatkanku untuk belajar. Memang kamarku dengan kamar ibu berjejeran letaknya. Dan sayup-sayup aku mendengar doa ibu setelah beliau menunaikan shalat.


"Tuhan, anakku sedang melewati hal-hal yang mungkin pertama kali bagi dirinya dijenjang atas seperti ini, aku mohon untuk engkau mudahkan segala urusan dan halangan yang dia lewati. Aku percaya, bahwa dirinya bisa menjaga kepercayaanku untuk tidak melakukan kecurangan pada ujiannya nanti".
Aku memandang tembok sejenak, memikirkan hal yang baru saja aku dengar. Aku sadar bahwa ibuku telah mempercayakan aku untuk tidak melakukan hal-hal yang tak seharusnya kulakukan. Ada sedikit rasa sedih yang menerpa diriku, sebab ibu sudah berdoa kepada tuhan untukku. Aku mencoba memegang kepercayaan ibu, mencoba sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan ibu. Aku memang belajar, menghafalkan apa yang menjadi jawaban untuk soal-soal diujianku nanti. Melewati masa-masa mengerjakan tanpa perantara apapun, tanpa pertanyaan apapun. Aku takut ibu kecewa denganku, sedih karena ulahku dan resah karena tindakanku. Tetapi apa dayaku? Yang sedari awal tanpa perantara apapun mengerjakan soal lalu dikalahkan dengan teman yang mengerjakan dengan bantuan? Aku tak iri. Hanya saja aku khawatir dengan orang tuanya yang berdoa agar anaknya bisa tanpa bantuan apapun namun dibohongi hanya karena ingin meninggikan nilai mereka.


Bukan untuk apapun aku menulis tentang hal ini, hanya saja aku ingin kamu sadar bahwa ada orang yang senantiasa berdoa untukmu hanya karena ingin anaknya pintar dengan hasil sendiri, bukan hasil orang lain. Aku yakin kamu semua bisa melewati semuanya sendiri, hanya saja karena hasutan teman yang biasa melakukan dan karena kamu malas untuk memikir sendiri dan lebih memilih jalan pintas yang akan menjerumuskan dirimu sendiri pada kekecewaan yang abadi.
Sekarang coba bayangkan, ibumu yang bahagia mendengar dirimu menang melewati ujian ini. Bukan karena dibantu namun karena diri sendiri yang tahu. Betapa merona wajahnya mendengar hal ini. Mungkin kamu akan ditempatkan dihatinya paling pertama karena sudah menyenangkan dirinya. Apa kau tahu, apa yang kita dapatkan dengan membahagiakan ibu walaupun sesaat? Coba pikir-pikir lagi dengan niat yang akan kamu lakukan saat ujian nanti.


Ujian telah selesai. Ibuku menungguku yang sedari tadi sudah menunggu didepan pintu untuk mendapatkan kabar baik dariku.


"Bagaimana dengan ujianmu nak? Apa kau berhasil mengatasi semuanya? Apa kau mengerjakan ini tanpa bantuan dari siapapun dan apapun?"

Terimakasih..
more »

Revisi UU KPK Kado Pahit Dari Sang Penguasa | Cerpen Karya Dina Agustina.






Pada suatu ketika ada sepasang sahabat sedang  membaca majalah di perpustakaan sekolahnya. Mereka berdua bernama Dina dan Denisa. Mereka berdua memang sahabat yang mempunyai hobi yang sama yakni membaca, bahkan setiap hari mereka selalu ke perpustakaan untuk membaca novel, buku pelajaran, majalah, maupun mengerjakan tugas bersama. Nah kebetulan hari itu mereka tidak sengaja menemukan koran yang tergeletak di meja tempat mereka duduk. Mata mereka langsung tertarik pada koran yang keluaran baru dan memang masih baru. Dengan sekejap Dina mengambil koran tersebut, dan ternyata koran tersebut berjudul Revisi UU KPK.

"Waah sepertinya isi korannya bagus tuh Din". Kata Denisa dengan rasa penasarannya itu.

"Iya nih, Den. Berita bagus seperti yang biasa temen-temen bicarakan dikelas". Sahut Dina.

"Menurut pendapatmu gimana, tentang DPR yang seenaknya merubah UU tanpa persetujuan dari rakyat? Seharusnya tugas DPR kan mewakili rakyat atas aspirasi dari rakyat, tapi kenapa RUU ini malah melenceng dari kemauan rakyat? Gak masuk akal banget deh". Dina dengan tegas memberi pendapat.

"Yup, aku sependapat dengan kamu Din. Kan emang DPR nggak pernah ngerti gimana keadaan rakyat yang semakin gak stabil ini, yang kaya makin kaya sedangkan yang miskin makin miskin". Sahut Denisa dengan tegas.

"Dengan seenaknya duduk-duduk santai  sementara rakyat menderita!". Sindir Dina.

"Wajar aja dong, kalau kita kecewa dengan keputusan ini. Bukankah penguatan KPK adalah janji Pak Jokowi? Bukankah ratusan anggota DPR itu harus mewakili aspirasi dari rakyatnya?" Sahut Dina kembali menegaskan.

"Iya Din jangan sampai rakyat ini didzolimi! Karena rakyat adalah pemilik kekuasaan tertinggi di negeri ini dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Itulah prinsip paling mendasar dari demokrasi yang tak boleh satupun orang berani coba-coba menghianati!" Tegas Denisa dengan lantang.

Perdebatan mereka sampai terdengar oleh ibu guru penjaga perpustakaan dan salut kepada mereka yang peduli dengan negara meskipun hanya bisa mengkritik saja.

Bel telah berbunyi, waktu istirahat telah usai, lalu kami kembali ke kelas masing-masing.

Terimakasih thanks for reading
Wish you all the best.
more »
Diberdayakan oleh Blogger.

Kata Bijak

Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan satu hobi. Setidaknya milikilah tiga macam hobi, satu yang bisa menghasilkan uang, satu lagi yang bisa menjaga kesehatan, dan satu lagi yang bisa membuat kita selalu kreatif #arulight

Cari Blog Ini

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Text Widget